Tuesday, July 10, 2007

Si Kecil Susi

Seorang lelaki memperhatikan dengan seksama seorang perempuan yang sedang berbelanja di supermarket bersama putrinya yang masih kecil. Si anak dengan asyiknya duduk di keranjang belanjaan ibunya.

Ketika melewati bagian kue, si kecil yang berusia tiga tahun itu merengek-rengek minta dibelikan. Si ibu menolak. Si kecil mulai ngambek dan rewel. Dengan suara tertahan, si ibu berkata, "Tenang Susi, tinggal tiga lorong lagi, jangan marah, ya. Tidak lama lagi, kok."

Kemudian mereka melewati lorong yang berisikan permen. Si kecil merengek lagi dan berteriak minta dibelikan permen. Si ibu menolaknya dan si kecil mulai menangis. Si ibu berkata, "Sabar, sabar, Susi, tinggal dua lorong lagi dan kita akan keluar dari tempat ini."

Akhirnya lorong terakhir terlewati dan sekarang mereka harus antri di kasir. Si kecil rupanya sadar ibunya tidak membelikan permen karet. Ia pun menangis dan mengacak-acak belanjaan ibunya. Si ibu dengan sabar berkata, "Sabar Susi, kita akan melewati kasir ini dalam 5 menit. Selanjutnya kamu akan pulang dan bisa tidur siang dengan enak."

Si lelaki yang melihat kejadian itu terkesima dengan kesabaran si ibu. Ia pun membuntutinya hingga ke tempat parkir untuk memberikan pujian. "Luar biasa, anda begitu sabar menghadapi si kecil Susi," katanya.

Si ibu menjawab, "Saya Susi, putri saya namanya Lili."

Monday, July 9, 2007

Lelaki Berduka

Seorang lelaki penuh luka dalam hidupnya. Ia selalu merasa gagal dalam setiap pekerjaan bahkan dalam hal membina sebuah rumah tangga yang utuh dengan istrinya. Walaupun cintanya "tanpa pamrih," cinta yang utuh, tulus tanpa ada pertimbangan "untung dan rugi." Ia cinta pekerjaanya, ia cinta istri dan anak semata wayangnya, ia cinta akan mereka yang selalu mengasuhnya termasuk sahabat-sahabatnya.

Karena ia yakin cinta tanpa pamrihnya itu akan membawa hasil yang maksimal. Kegagalan yang ia rasakan semakin menggunung, seakan meledak saat itu akan meledak bagai bom yang bisa menghancurkan segalanya. Ia sadari kekurangannya. Tetapi kesalahan dan kegagalannya mengalahkan cintanya, hingga kemelut dirinya melitit hati terdalamnya. Ia selalu mengumpat orang lain yang membuat kegagalannya. Cinta tanpa pamrihnya luntur.

Melihat anaknya dirundung duka yang panjang, perempuan renta yang mengenalkan ia kedunia bertanya, "Anakku, apa yang yang membuat engkau berduka, bukankah hidup ini mulia, anakku."

Ia menjawab dengan lirih, "Ma, rasanya aku tak berdaya, tiada berguna aku hidup, nyawaku inipun tak mengandung arti apa-apa karena aku manusia pemarah dan selalu membuat kesalahan, padahal bukan karena aku."

Sang ibu berkata, " Itu masalah yang bisa diselesaikan anakku"

Ia menjawab dengan muka merah dan heran, "Aku gagal Ma, hidupku ini selalu jadi masalah, dan ini masalah besar bagiku dan orang lain."

Perempuan renta itu tidak mampu titik temu untuk meredakan emosi lelaki berduka.

Hari itu semakin gelap untuknya, dunia ini semakin gelap bahkan hidupnya tanpa matahari dan rembulan . Ia bergumam, "Hidup mulia? bukan, hidup ini tidak mulia, sayang. Hantu kegagalan terus mendayu dalam hatinya. Ia meraih seutas tali yang selama ini untuk menampung kegagalan. Bunuh diri! ya bunuh diri akan menyelesaikan masalahku." Ia berjalan menuju kebun yang selama ini menjadi tempat hiburannya.

Saat tali sudah mengikat menggantung leher dan pohon rambutan, sang ibu datang dengan tergopoh - gopoh.

"Anakku akan aku relakan engkau untuk mati dengan maumu, jika engkau tak mau dengar suara orang lain, beri barang sedetik untuk bertanya padamu. Kapan "masa emas" yang engkau alami selama hidupmu?"

Ia menjawab, "Saat aku merasa benar dan hidup kecukupan."

Sang Ibu menjawab, "Ya, mungkin itu yang selalu kamu harapkan dalam hidup ini hingga kesalahan, masalah yang ada dan kegagalan tidak engkau lihat sebagai awal untuk menemukan matahari, akhirnya tali itu akan mengakhirinya. Tapi bukan itu anakku, masa emas kita adalah 'Masa' dimana kita menyadari bahwa masalah itu timbul dari kita sendiri, bukan karena orang lain. Bila kita menyadari itu, kita bisa melihat apa yang membuat kegagalan, apa yang menjadi masalah dan bisa melihat pada diri kita sendiri, dan paling tidak kita akan punya kesempatan untuk memperbaiki dan mampu untuk tidak mengulanginya kembali, dan mencoba berusaha berbuat yang paling baik paling tidak untuk kita sendiri, Tetapi bila engkau masalah itu selalu engkau pikir disebabkan karena orang lain, engkau akan selalu merasa benar, padahal sebetulnya salah dan bila kesalahan lain menimpa akan menjadi bom yang siap meledakkan nyawamu. Kita sendiri menyumbang kegagalan itu, bukan ia dan bukan juga mereka, bahkan timbul dendam."

"Sekarang terserah engkau anakku, bila engkau masih mau dengar orang lain,dan kembali bersama mataharimu" lanjut sang ibu.

Perlahan ia lepaskan tali yang menggantung dilehernya, memeluk ibunya, memeluk istri dan anak tercintanya ia memeluk seluruh kehidupannya dan menemukan matahari

Sunday, July 8, 2007

Tahta Untuk Sang Putri

Seorang ayah, kebetulan pengusaha kaya multi-usaha, menghadapi soal yang amat pelik. Siapakah yang harus dipilihnya menjadi President dan CEO menggantikan dirinya memimpin kerajaan bisnisnya yang sudah dibangun susah payah lebih dari setengah abad?

Kini usianya sudah berkepala tujuh dan penyakit-penyakit tua sudah mulai menggerogoti dirinya. Ia tahu sebentar lagi dirinya akan mengikuti jejak nenek-moyangnya menuju lorong hidup manusia fana.

Anaknya tiga orang. Si sulung amat cerdas, meraih MSc. dan MBA luar negeri, ia berselera canggih, senang glamour, ambisius, dan punya pergaulan yang luas di kalangan jet set. Cuma si ayah cukup khawatir karena si sulung ini punya bakat bercumbu dengan bahaya seperti (konon) keluarga Kennedy. Naluri judinya gede, dan niat curangnya pun cukup kuat. Singkatnya, ia cerdas, kreatif, namun lihai dan licin.

Si tengah, lebih hebat lagi. Bergelar PhD. bidang kimia dari universitas beken di Amerika, ia lulus dengan predikat magna cum laude. Papernya bertebaran di jurnal-jurnal internasional. Bangga sekali hati si ayah yang cuma lulus SMP zaman Jepang. Dia dosen dan peneliti. Dan di perusahaan ayahnya dia menjabat sebagai Direktur Riset dan Pengembangan. Tetapi menjadi CEO, ia terlalu akademis. Kurang cocok dengan bisnis mereka yang kini berspektrum sangat lebar.

Si bungsu, satu-satunya perempuan, cuma lulus S1 dalam negeri. Meskipun sejak lima tahun terakhir ia bergabung dengan usaha ayahnya sebagai Direktur Grup Konsumer, tetapi ia memulai karirnya di perusahaan asing sebagai wiraniaga (marketing executive). Ia merangkak dari bawah hingga 15 tahun kemudian bisa mencapai posisi General Manager. Otaknya kalah brilian dibanding kedua kakaknya. Meskipun cenderung hemat berkata-kata, namun ia menunjukkan bakat memimpin yang baik. Ia mampu mendengar dengan intens. Berbagai pendapat dan gagasan bisa diolahnya dengan dalam.

Gaya hidupnya biasa saja. Ia disenangi sekaligus disegani orang karena sikapnya yang fair, jujur, dan mampu merakyat dengan para bawahannya.

Nah, jika Anda adalah konsultan independen, siapakah pilihan Anda menggantikan sang patriarch menjadi President dan CEO?
Saya bertaruh, sebagian besar Anda akan menominasikan si bungsu.

Dan si ayah juga demikian. Masalah ini menjadi pelik, karena menurut adat-istiadat, si sulunglah pewaris takhta. Dan, ia sangat berambisi untuk itu.Sedang si bungsu, selain paling buncit, perempuan lagi. Jadi ia kalah status, gelar dan gender.

Bagaimana jalan keluarnya?

Konsultan angkat tangan.

Rujukan buku teks tidak ada. Sang patriarch akhirnya hanya bisa mengandalkan wibawa dan hikmatnya sebagai ayah. Lalu dipanggilnya ketiga anaknya.

Dibentangkannya persoalan secara gamblang.

Diuraikannya plus-minus setiap anaknya. Dianalisisnya kemungkinan sukses masing-masing memimpin grup usaha itu menuju milenium ketiga.

Dialog pun dimulai.

Dan si ayah segera maklum, dead lock akan terjadi.

"Sudahlah, aku akan memutuskan sendiri siapa penggantiku," kata orangtua itu akhirnya. Ketiganya takzim menurut.

Seminggu kemudian, si ayah datang dengan sebuah ujian.

"Barangsiapa bisa mengisi ruang ini sepenuh-penuhnya, maka dialah penggantiku," katanya sambil menunjuk ruang rapat yang cuma terisi empat kursi dan sebuah meja bundar. "Budget maksimum Rp1 juta," tambahnya lagi.

Kesempatan pertama jatuh pada si sulung. Enteng, pikirnya.

Besoknya, dipenuhinya ruangan itu dengan cacahan kertas berkarung-karung. Dan memang ruangan itu menjadi padat.

"Bagus, besok giliranmu," kata si ayah kepada anak keduanya.

Duapuluh empat jam kemudian, ruangan itu pun dipenuhinya dengan butiran styro- foam yang diperolehnya dengan menghancurkan bekas-bekas packaging.

"Oke, besok giliranmu," kata sang patriarch menunjuk putrinya.

Esoknya, ketika acara inspeksi dimulai, ternyata ruangan masih kosong.

"Lho, kok kosong?" tanya ketiganya hampir serempak. Sang putri diam saja. Dimatikannya saklar lampu. Dari sakunya dia keluarkan sebatang lilin. Ditaruhnya di atas meja.

Lalu disulutnya dengan sebatang korek api.

"Lihat, ruangan ini penuh dengan terang. Silahkan dinilai, apakah ada celah kosong tak tersinari," katanya kalem.

Semua Terjadi Karena Suatu Alasan

Tidak semua yang kita inginkan itu baik bagi kita, Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita.

Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun terjadilah.

Gedung putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru.

Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan suratlamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos.

Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan! Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku. Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center.

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini?

Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa.

Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang
mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam?

Aku berpaling pada ayahku. Katanya, "Semua terjadi karena suatu alasan."

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang.

Aku teringat kata-kata ayahku, "Semua terjadi karena suatu alasan." Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang.

Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.

Friday, July 6, 2007

Kentang

Suatu ketika, ada seorang guru yang meminta murid-muridnya untuk membawa satu kantung plastik bening ke sekolah. Lalu, ia meminta setiap anak untuk memasukkan beberapa kentang di dalamnya. Setiap anak diminta untuk memasukkan sebuah kentang, untuk setiap orang yang tak mau mereka maafkan.

Mereka diminta untuk menuliskan nama orang itu, dan mencantumkan tanggal di dalamnya. Ada beberapa anak yang memiliki kantung yang ringan, walau banyak juga yang memiliki plastik kelebihan beban.

Mereka diminta untuk membawa kantung bening itu siang dan malam. Kemana saja, harus mereka bawa, selama satu minggu penuh. Kantung itu, harus ada di sisi mereka kala tidur, di letakkan di meja saat belajar, dan ditenteng saat berjalan.

Lama-kelamaan kondisi kentang itu makin tak menentu. Banyak dari kentang itu yang membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Hampir semua anak mengeluh dengan pekerjaan ini. Akhirnya, waktu satu minggu itu selesai.

Dan semua anak, agaknya banyak yang memilih untuk membuangnya daripada menyimpannya terus meneru

Thursday, July 5, 2007

Antara Memberi dan Menerima

Alkisah, dua setan cilik menghadap Raja Neraka begitu mereka meninggal. Setelah melihat buku catatan tentang kebaikan dan kejahatan kedua orang ini, Raja Neraka berkata, "Semasa kalian hidup, tidak ada kejahatan besar yang kalian lakukan. Maka pada kelahiran mendatang, kalian akan menjadi manusia. Kalian akan menjadi saudara. Tapi salah satu dari kalian akan menjalani hidup 'memberi', sedang yang satu lagi, menjalani hidup 'menerima'. Siapa yang mau menjalani hidup 'menerima?'.

Mendengar pertanyaan itu, setan cilik yang pertama berpikir dalam hati: "Menjalani hidup menerima tidak akan menderita bahkan menyenangkan." Setelah berpikir demikan ia bergegas menjawab, "Raja Neraka, izinkanlah saya menjalani hidup hanya dengan menerima."

Melihat A berujar demikian, B sama sekali tidak iri. Bahkan ia berpikir, Menjalani hidup memberi berarti selalu membantu orang lain. Suatu perbuatan yang mulia! Tanpa ragu- ragu, B berkata, "Raja Neraka, saya rela menjalani hidup memberi."

Setelah mendengar jawaban kedua setan cilik itu, Raja Neraka mencatat penentuan masa depan keduanya dan berujar, "B, karena kau memilih hidup memberi, maka engkau akan menjadi orang kaya yang dermawan, suka beramal dan menolong orang. Sedangkan kau A, karena mengharapkan hidup menerima, maka engkau akan menjadi pengemis yang hidup dari pemberian orang lain."

Wednesday, July 4, 2007

Olimpiade Yang Istimewa

Beberapa tahun lalu, diadakan olimpiade khusus orang-orang cacat di Seattle. Saat itu dilakukan pertandingan lari jarak 100 meter. Sembilan pelari telah bersiap-siap di tempat start masing-masing.

Ketika pistol tanda pertandingan dinyalakkan, mereka semua berlari, meski tidak tepat berada di garis lintasannya, namun semuanya berlari dengan wajah gembira menuju garis finish dan berusaha untuk memenangkan pertandingan. Kecuali, seorang pelari, anak lelaki, tiba-tiba tersandung dan terjatuh berguling beberapa kali. Ia lalu menangis.

Delapan pelari mendengar tangisan anak lelaki yang terjatuh itu. Mereka lalu memperlambat lari mereka dan menoleh ke belakang. Mereka semua berbalik dan berlarian menuju anak lelaki yang terjatuh di tanah itu. Semuanya, tanpa terkecuali.

Seorang gadis yang menyandang cacat keterbelakangan mental menunduk, memberikan sebuah ciuman padanya dan berkata, "Semoga ini membuatmu merasa lebih baik." Kemudian kesembilan pelari itu saling bergandengan tangan, berjalan bersama menyelesaikan pertandingan menuju garis finish.

Seluruh penonton yang ada di stadion itu berdiri, memberikan salut selama beberapa lama. Mereka yang berada di sana saat itu masih saja tak bosan-bosannya meneruskan kejadian ini. Tahukah anda mengapa? Karena di dalam diri kita yang terdalam kita tahu bahwa: dalam hidup ini tak ada yang jauh lebih berharga daripada kemenangan bagi kita semua. Yang terpenting dalam hidup ini adalah saling tolong menolong meraih kemenangan, meski kita harus mengalah dan mengubah diri kita sendiri.

Tuesday, July 3, 2007

Tiap Hari Adalah Istimewa

Kakak iparku membuka laci lemari pakaian kakakku yang paling bawah, lalu mengambil sesuatu terbungkus tissue putih dan mengulurkannya kepadaku sambil berkata: "Ini pakaian dalam yang sangat spesial."

Kubuka bungkusan itu, dan kutemukan sebuah pakaian dalam yang sangat menawan, lembut, terbuat dari sutera, disulam tangan, dengan tali sangat lembut. Tag harga masih tertempel, dengan kode-kode penjualannya yang rumit.

"Jane membelinya delapan atau sembilan tahun yang lalu, dan belum pernah memakainya. Katanya ia ingin memakainya untuk suatu kesempatan yang sangat istimewa.Yah, rasanya inilah hari yang istimewa itu," kata kakak iparku lemah.

Ia mengambil pakaian dalam itu dari tanganku, dan meletakkannya di tas tempat tidur, bersama dengan pakaian lainnya yang kami persiapkan untuk dibawa ke rumah duka.

Ia memegang pakaian dalam itu sejenak, dan dengan tiba-tiba ia menutup laci tersebut keras-keras sambil berkata keras padaku: "Jangan pernah menyimpan sesuatu yang istimewa untuk kesempatan istimewa. Hidupmu tiap hari adalah istimewa."

Aku terus ingat kata-kata tersebut sepanjang upacara pemakaman dan hari-hari sesudahnya. Saya membantu dia dan keponakan-keponakan saya untuk melewati hari-hari berkabung setelah kematian kakakku yang mendadak. Aku juga terus memikirkan mereka sepanjang penerbanganku kembali ke California dari kota Midwestern di mana kakakku tinggal. Aku juga memikirkan hal-hal yang belum sempat didengar, dilihat atau dikerjakan oleh almarhum kakakku.

Aku juga memikirkan hal-hal yang sudah ia kerjakan tanpa menyadari bahwa hal-hal tersebut sungguh sangat spesial. Aku terus memikirkan kata-kata kakak iparku, dan sepertinya kata-kata yang ia ucapkan saat hatinya penuh duka tersebut telah mengubah hidupku. Mendadak sepertinya aku telah membaca sedemikian banyak buku tetang kehidupan.

Aku lalu memandang ke luar jendela dan menikmati pemandangan udara yang indah, tanpa pusing lagi memikirkan bagaimana kebun kesayanganku yang telah kutinggal pergi beberapa hari.

Sesampai di rumahku sendiri, aku lalu menyempatkan diri untuk lebih Banyak berkumpul dengan keluargaku dan teman-temanku, dan langsung mengurangi kegiatan rapat-rapatku. Apabila diperlukan, hidup ini semestinya dipenuhi pola-pola untuk pengalaman tentang kenikmatan, dan bukan pertahanan serta beban. Sekarang saya mencoba untuk memperhitungkan waktu dengan lebih teliti dan mensyukurinya.

Aku tidak "menyimpan" sesuatu. Kami bahkan menggunakan chinawares (piring-piring buatan cina) dan koleksi kristal kami setiap hari, tanpa menunggu ada pesta, ada tamu atau lainnya. Ketika kami kehilangan uang, ketika kran air bocor, ketika bunga camelia kami mekar, adalah saat-saat yang kami istimewakan.

Saya pergi ke pasar memakai pakaian yang indah, jika memang sedang ingin. Semua kami lakukan tanpa rasa sayang yang berlebihan terhadap barang-barang tersebut. Teorinya, kalau saya kelihatan lebih berada daripada orang-orang di sekitarku, saya juga akan menjadi tidak pelit terhadap diriku sendiri.

Saya tidak hanya memakai parfum kalau pergi ke pesta.

Pelayan di toko bangunan, tukang sayur di pasar, teller di bank, dan teman-temanku di pesta, memiliki hidung yang berfungsi sama. Kata-kata "suatu hari kelak" ataupun "hari-hari ini", mempunyai makna yang sama bagi saya. Jika ada hal-hal yang layak didengar, ditonton, dibaca atau dikerjakan, saya akan berusaha mendengar, menonton, membaca atau mengerjakannya sekarang juga.

Saya tidak tahu apa kira-kira yang akan almarhum kakakku apabila ia tahu bahwa keesokan harinya ("besok" adalah kata-kata yang tidak pernah kita bayangkan akan tidak terjadi) ia sudah tidak akan ada lagi di dunia ini. Mungkin ia akan menelpon seluruh keluarganya dan beberapa teman dekatnya, mungkin ia akan menelpon teman-teman lamanya dan meminta maaf akan kesalahan-kesalahan yang ia lakukan di masa lalu. Saya bahkan juga membayangkan bahwa ia justru akan pergi ke sebuah restoran cina yang sangat ia sukai.

Tapi semua itu hanya perkiraanku saja. Kita tidak pernah tahu.

Azie Taylor Morton

Beberapa tahun yang lalu, Bob Moore diundang untuk mendengarkan seorang wanita berkedudukan penting yang memberikan ceramah kepada para mahasiswa disebuah kolese kecil di Calofornia Selatan. Bangsal dipenuhi mahasiswa yang penuh semangat karena mendapat kesempatan mendengarkan seseorang yang sangat terkenal dibidangnya.

Setelah sang Gubernur menyampaikan kata sambutannya, si pembicara maju mendekati mikrofon, memandang khalayak pendengarnya dari kiri, ke kanan, dan mulai:

"Saya dilahirkan oleh seorang ibu yang tidak dapat mendengar dan tidak dapat bicara, alias Bisu dan Tuli. Saya tidak tahu siapa Ayah saya, apakah dia masih hidup atau sudah meninggal. Pekerjaan pertama yang saya geluti adalah di Pertanian Kapas"

Para pendengar tertegun. "Tidak ada sesuatu pun yang akan tetap sama jika kita tidak menghendaki begitu," dia melanjutkan.

"Bukan nasib, bukan keadaan, dan juga bukan kita dilahirkan demikian yang menyebabkan masa depan kita menjadi demikian."

Dan dengan suara perlahan, dia mengulangi, "Tidak ada sesuatupun yang akan tetap sama jika kita tidak menghendakinya begitu."

"Yang harus dilakukan orang adalah," dia menambahkan dengan suara tegas, "Mengubah keadaan yang mendatangkan ketidakbahagiaan atau ketidakpuasan dengan menjawab pertanyaan: "Saya ingin keadaan ini menjadi seperti apa?, Lalu kita harus bekerja sendiri dengan tekad baja untuk mewujudkannya."

Kemudian, sebuah senyuman cantik mengembang ketika dia berkata, "Nama saya Azie Taylor Morton. Saya sekarang berdiri disini sebagai Menteri Keuangan Amerika Serikat."

Belajar Mendengarkan

Anda pasti tahu bagaimana rasanya menerima telepon di tengah malam. Tapi, malam itu semuanya terasa berbeda. Aku terlonjak dari tidurku ketika telepon di samping tempat tidur berdering-dering. Aku berusaha melihat jam beker dalam gelap. Cahaya illuminasi dari jam itu menunjukkan tepat tengah malam. Dengan panik aku segera mengangkat gagang telepon. "Hallo?" dadaku berdegub-degub kencang. Aku memegang gagang telepon itu erat-erat. Kini suamiku terbangun dan menatap wajahku lekat-lekat. "Mama?" terdengar suara di seberang sana.

Aku masih bisa mendengar bisikannya di tengah-tengah dengung telepon. Pikiranku langsung tertuju pada anak gadisku. Ketika suara itu semakin jelas, aku meraih dan menarik-narik pergelangan tangan suamiku. "Mama, aku tahu ini sudah larut malam. Tapi jangan... jangan berkata apa-apa dahulu sampai aku selesai bicara. Dan, sebelum mama menanyai aku macam-macam, ya aku mengaku ma. Malam ini aku mabuk. Beberapa hari ini aku lari dari rumah, dan..."

Aku tercekat. Nafasku tersenggal-senggal. Aku lepaskan cengkeraman pada suamiku dan menekan kepalaku keras-keras. Kantuk masih mengaburkan pikiranku. Dan, aku berusaha agar tidak panik. Ada sesuatu yang tidak beres.

Dan aku takut sekali. Yang ada dalam pikiranku bagaimana aku telah melukai hati mama. Aku tak mau mati di sini. Aku ingin pulang. Aku tahu tindakanku lari dari rumah adalah salah. Aku tahu mama benar benar cemas dan sedih. Sebenarnya aku bermaksud menelepon mama beberapa hari yang lalu, tapi aku takut... takut..." Ia menangis tersedan-sedan. Sengguknya benar-benar membuat hatiku iba. Terbayang aku akan wajah anak gadisku. Pikiranku mulai jernih, "Begini..."

"Jangan ma, jangan bicara apa-apa. Biarkan aku selesai bicara."
ia meminta. Ia tampak putus asa. Aku menahan diri dan berpikir apa yang harus aku katakan. Sebelum aku menemukan kata-kata yang tepat, ia melanjutkan, "Aku hamil ma. Aku tahu tak semestinya aku mabuk sekarang, tapi aku takut. Aku sungguh-sungguh takut!"

Tangis itu memecah lagi. Aku menggigit bibirku dan merasakan pelupuk mataku mulai basah. Aku melihat pada suamiku yang bertanya perlahan, "Siapa itu?" Aku menggeleng-gelengkan kepala. Dan ketika aku tidak menjawab pertanyaannya, ia meloncat meninggalkan kamar dan segera kembali sambil membawa telepon portable. Ia mengangkat telepon portable yang tersambung pararel dengan teleponku. Terdengar bunyi klik. Lalu suara tangis suara di seberang sana terhenti dan bertanya, "Mama, apakah mama masih ada disana? Jangan tutup teleponnya ma. Aku benar-benar membutuhkan mama sekarang. Aku merasa kesepian."

Aku menggenggam erat gagang telepon dan menatap suamiku, meminta pertimbangannya. "Mama masih ada di sini. Mama tidak akan menutup telepon," kataku.

"Semestinya aku sudah bilang pada mama. Tapi bila kita bicara, mama hanya menyuruhku mendengarkan nasehat mama. Selama ini mamalah yang selalu berbicara. Sebenarnya aku ingin bicara pada mama, tetapi mama tak mau mendengarkan. Mama tak pernah mau mendengarkan perasaanku. Mungkin mama anggap perasaanku tidaklah penting. Atau mungkin mama pikir mama punya semua jawaban atas persoalanku. Tapi terkadang aku tak membutuhkan nasehat mama. Aku hanya ingin mama mau mendengarkan aku."

Aku menelan ludahku yang tercekat di kerongkongan. Pandanganku tertuju pada pamflet "Bagaimana Berbicara Pada Anak Anda" yang tergeletak di sisi tempat tidurku. "Mama mendengarkanmu," aku berbisik.

"Tahukah mama, sekarang aku mulai cemas memikirkan bayi yang ada di perutku dan bagaimana aku bisa merawatnya. Aku ingin pulang. Aku sudah panggil taxi. Aku mau pulang sekarang."

"Itu baik sayang," kataku sambil menghembuskan nafas yang meringankan dadaku. Suamiku duduk mendekat padaku. Ia meremas jemariku dengan jemarinya.

"Tapi ma, sebenarnya aku bermaksud pulang dengan menyetir sendiri mobil sendiri."

"Jangan," cegahku. Ototku mengencang dan aku mengeratkan genggaman tangan suamiku. "Jangan. Tunggu sampai taxinya datang. Jangan tutup telepon ini sampai taxi itu datang."

"Aku hanya ingin pulang ke rumah, mama."

"Mama tahu. Tapi, tunggulah sampai taxi datang. Lakukan itu untuk mamamu."

Lalu aku mendengar senyap di sana. Ketika aku tak mendengar suaranya, aku gigit bibir dan memejamkan mata. Bagaimana pun aku harus mencegahnya mengemudikan mobil itu sendiri. "Nah, itu taxinya datang." Lalu aku dengar suara taxi berderum di sana. Hatiku terasa lega. "Aku pulang ma," katanya untuk terakhir kali. Lalu ia tutup telepon itu. Airmata meleleh dari mataku. Aku berjalan keluar menuju kamar anak gadisku yang berusia 16 tahun. Suamiku menyusul dan memelukku dari belakang. Dagunya ditaruh di atas kepalaku.

Aku menghapus airmata dari pipiku. "Kita harus belajar mendengarkan," kataku pada suamiku. Ia terdiam sejenak, dan bertanya, "Kau pikir, apakah gadis itu sadar kalau ia telah menelepon nomor yang salah?"

Aku melihat gadisku sedang tertidur nyenyak. Aku berkata pada suamiku, "Mungkin itu tadi bukan nomor yang salah."

"Ma? Pa? Apa yang terjadi?," terdengar gadisku menggeliat dari balik selimutnya. Aku mendekati gadisku yang kini terduduk dalam gelap, "Kami baru saja belajar," jawabku.

"Belajar apa?" tanyanya. Lalu ia kembali berbaring dan matanya terpejam lagi. "Mendengarkan," bisikku sambil mengusap pipinya.

Aku Sangat Mencintainya

Pendeta sudah hampir selesai membacakan doa pada upacara pemakaman. Tiba-tiba pria berumur 78 tahun yang istrinya—teman hidupnya selama 50 tahun—meninggal dunia dan baru saja dimakamkan berseru dengan sedih, “Aduh, aduh, betapa besarnya cintaku kepadanya!” Keluh kesahnya itu terasa mengganggu ketenangan upacara yang berlangsung khusyuk itu. Para anggota keluarga dan teman-teman yang berdiri di sekeliling nampak kaget dan kikuk karenanya. Anak-anak pria itu, yang semua sudah dewasa, berusaha menenangkannya.

“Sudahlah, Ayah—kami mengerti. Sudah, tenanglah.” Pria lansia itu menatap peti mati yang dengan pelan pelan diturunkan ke dalam liang makam, sementara pendeta mengakhiri doa. Setelah selesai, dipersilahkannya sanak keluarga menaburkan tanah ke atas peti mati sebagai tanda bahwa maut merupakan akhir yag pasti. Hadirin secara bergilir melakukannya, kecuali pria lansia itu. ”Aduh, aku sangat mencintainya!” keluhnya dengan suara keras. Ketiga anaknya berusaha lagi menenangkannya, tetapi ia terus saja berkeluh kesah, ”Aku mencintainya!”

Ketika para pelayat mulai beranjak hendak pergi, pria itu tetap saja berdiri di tempat semula sambil menatap ke dalam liang. Kini pendeta menghampirinya, ”Saya tahu bagaimana perasaan Anda, tetapi kini sudah waktunya pergi. Kita semua harus pergi dari sini dan meneruskan kehidupan kita.”

”Aduh, betapa besarnya cintaku kepadanya!” keluh pria malang itu dengan sedih. ”Anda tidak mengerti,” ujarnya kepada pendeta. ”Saya pernah sekali hendak mengucapkannya kepadanya.”

Wednesday, June 27, 2007

Tiada Perbuatan Baik Yang Kecil

Hari itu hari Kamis, hari pengucapan syukur, hari yang direncanakan sebagai hari untuk ibadah. Hari khusus itu merupakan tradisi mingguan yang diprakarsai oleh dua gadis kecil, anakku dan aku sendiri sejak beberapa tahun lalu. Hari Kamis menjadi hari bagi kami untuk keluar ke alam bebas dan memberikan sumbangan positif. Pada hari Kamis yang khusus ini, kami tak punya gagasan pasti apa yang akan kami lakukan, tetapi kami tahu sesuatu akan muncul dengan sendirinya.

Sambil mengendarai mobil di sepanjang jalan Houston yang ramai, berdoa mohon bimbingan terhadap hasrat kami untuk memenuhi janji Hari Perbuatan Baik pekan itu. Ketika hari menjelang siang, sudah tentu perut dua bocah kecilku mulai lapar. Mereka berupaya menyadarkanku akan situasi mereka dengan bernyanyi, "McDonald, McDonald, McDonald, ...." sepanjang perjalanan. Aku menyerah dan dengan bersungguh-sungguh mulai mencari-cari McDonald terdekat. Mendadak aku sadar bahwa di setiap persimpangan jalan yang kulewati selalu ada beberapa pengemis. Hal itu menggugah hatiku! Jika dua anakku yang kecil saja kelaparan, semua pengemis itu tentunya kelaparan juga.

Tepat! Sasaran Perbuatan Baik yang akan kami lakukan telah muncul dengan sendirinya. Kami pergi membeli makan siang untuk para pengemis itu. Setelah menemukan McDonald dan memesan dua Happy Meals untuk gadis-gadis kecil itu, aku memesan tambahan 15 kotak makan siang dan kami pun keluar untuk membagikannya. Benar-benar menggembirakan. Kami menghampiri setiap pengemis, memberikan sumbangan kami, lalu memberitahu mereka bahwa kami berharap keadaan mereka baik-baik saja. Lalu kami mengatakan, "Eh omong-omong, ini ada makan siang." Lalu kami pun melaju ke persimpangan berikutnya. Itu adalah cara terbaik untuk memberi. Tak ada waktu cukup bagi kami untuk memperkenalkan diri kami atau menerangkan apa yang kami lakukan, juga tak ada waktu bagi mereka untuk mengatakan sesuatu kembali kepada kami.

Perbuatan Baik itu anonim dan memberi kekuatan kepada kami masing-masing, dan kami senang melihat apa yang tampak dari kaca belakang; seseorang yang terperanjat penuh kegembiraan mengangkat tas makan siangnya lalu memandang kami yang melaju pergi. Benar-benar indah!

Kami sudah mendekati akhir rute kami hari itu dan ada seorang wanita kecil berdiri, meminta uang kecil. Kami memberikan sedekah ala kadarnya dan kantong makan siang terakhir yang kami miliki, lalu buru-buru berputar ke arah yang berlawanan-pulang ke rumah. Sial, lampu merah menahan kami kembali dan kami pun berhenti di persimpangan yang sama dimana si wanita kecil tadi berdiri. Aku merasa malu dan tak tahu harus bersikap bagaimana. Aku tak ingin wanita itu merasa terpaksa mengatakan atau melakukan sesuatu.

Dia bergerak ke mobil kami, maka kuturunkan jendela ketika dia mulai berbicara, "Tak seorang pun pernah melakukan hal seperti ini untukku sebelumnya," katanya dengan takjub. Aku menjawab, "Yah, aku bahagia kami menjadi yang pertama." Merasa tak enak, dan ingin memperpanjang percakapan itu saya pun bertanya, "Lalu, kapan kamu akan memakan santapan siangmu?"

Dia hanya melihat padaku dengan mata coklatnya yang besar dan sayu, lalu berkata, "Oh sayang, aku tak akan memakannya." Aku terheran-heran, tetapi sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, ia melanjutkan. "Anda tahu, aku punya seorang gadis kecil di rumah dan dia suka sekali McDonald, tetapi aku tak pernah mampu membelikan untuknya karena aku benar-benar tak punya uang. Tetapi tahukah Anda ... malam ini dia akan makan McDonald!"

Aku tak tahu apakah anak-anak melihat air mata di pelupuk mataku. Begitu sering aku bertanya apakah Perbuatan Baik yang kami lakukan begitu remeh atau tak punya arti untuk mendatangkan perubahan yang nyata. Namun pada saat itu aku menyadari kebenaran kata-kata Ibu Teresa :"Kita tak mampu melakukan hal-hal yang besar kita hanya mampu melakukan hal-hal yang kecil dengan cinta yang besar."

Tuesday, June 26, 2007

Seorang Buruh

Aku bukan orang yang suka menguping percakapan orang lain. Tapi pada suatu malam, sewaktu aku melintasi halaman rumah kami, aku ternyata melakukannya. Istriku sedang berbicara kepada anak bungsu
kami selagi ia duduk di lantai dapur. Jadi aku berhenti untuk mendengarkan di luar pintu belakang. Sepertinya ia mendengar beberapa anak menyombongkan pekerjaan ayah mereka. Bahwa semuanya para eksekutif hebat ...... lalu mereka bertanya pada Bob, anak kami, "Papamu memiliki karier bagus macam apa ?" mulailah mereka bertanya. Bob menggumam perlahan sambil memalingkan muka, "Ia hanya seorang buruh".

Istriku yang baik menunggu sampai mereka semua pergi, lalu memanggil masuk putra kami. Katanya, "Mama ingin bicara sama kamu, Nak" seraya mencium pipinya yang berlesung pipit. "Kamu bilang, papamu hanya seorang buruh, dan apa yang kamu katakan itu betul. Tapi Mama ragu, apakah kamu tahu apa artinya yang sebenarnya, jadi Mama akan menjelaskan padamu."

"Dalam seluruh industri yang membuat negeri kita hebat Dalam semua toko dan warung dan truk yang menarik muatan setiap hari.... Setiap kali kamu melihat rumah baru dibangun, ingatlah, anakku. Diperlukan seorang buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu!"

"Kalau semua bos meninggalkan meja mereka dan libur selama setahun. Roda industri masih bisa berjalan berputar dengan cepat. Jika orang seperti papamu berhenti bekerja, industri itu tak bisa berjalan. Perlu seorang buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu!"

Aku menelan air mata dan berdeham saat memasuki pintu. Mata putra kecilku berbinar gembira saat ia melompat dari lantai. Ia memelukku sambil berkata, "Hai, Pa, aku bangga jadi anak Papa .... Karena Papa adalah satu dari orang-orang istimewa yang menyelesaikan pekerjaan besar."

Monday, June 25, 2007

Stanford University

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar dan suaminya yang berpakaian sederhana dan terlihat usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University dan meminta janji temu. Sang sekretaris langsung mendapat kesan bahwa orang kampung, udik seperti ini tidak ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

"Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard", kata sang Pria lembut.

"Beliau hari ini sibuk," sahut sang Sekretaris cepat.

"Kami akan menunggu," jawab sang Wanita.

Selama empat jam Sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi ternyata tidak, dan sang sekretaris mulai frustrasi dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang Pimpinan.

"Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi," katanya pada sang Pimpinan Harvard.

Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka, tetapi dia tidak menyukai ada orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.

Sang wanita berkata padanya, "Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini."

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh... dia bahkan terkejut.

"Nyonya," katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini akan seperti kuburan."

"Oh, bukan," Sang wanita menjelaskan dengan cepat, "Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard."

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah gedung! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung?! Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard."

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?"

Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.

Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, dimana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.

Sunday, June 24, 2007

Apakah Saya Akan Langsung Mati Dokter?

Waktu itu, ketika saya masih seorang sukarelawan yang bekerja di sebuah rumah sakit, saya berkenalan dengan seorang gadis kecil yang bernama Liz, seorang penderita satu penyakit serius yang sangat jarang. Kesempatan sembuh, hanya ada pada adiknya, seorang pria kecil yang berumur lima tahun, yang secara mujizat sembuh dari penyakit yang sama. Anak ini memiliki antibodi yang diperlukan untuk melawan penyakit itu.

Dokter kemudian mencoba menerangkan situasi lengkap medikal tersebut ke anak kecil ini, dan bertanya apakah ia siap memberikan darahnya kepada kakak perempuannya. Saya melihat si kecil itu ragu-ragu sebentar, sebelum mengambil nafas panjang dan berkata "Baiklah... Saya akan melakukan hal tersebut asalkan itu bisa menyelamatkan kakakku". Mengikuti proses tranfusi darah, si kecil ini berbaring di tempat tidur,disamping kakaknya. Wajah sang kakak mulai memerah, tetapi Wajah si kecil mulai pucat dan senyumnya menghilang.

Si kecil melihat ke dokter itu, dan bertanya dalam suara yang bergetar...katanya "Apakah saya akan langsung mati dokter?"Rupanya si kecil sedikit salah pengertian. Ia merasa, bahwa ia harus menyerahkan semua darahnya untuk menyelamatkan jiwa kakaknya.

Wednesday, June 20, 2007

Anak Kerang

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. "Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita bangsa kerang sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam." "Kuatkan hatimu.

Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama
makin halus.

Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar.

Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna.

Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

Tuesday, June 19, 2007

Anak Anjing Dijual

Sebuah toko hewan peliharaan (pet store) memasang papan iklan yang menaik bagi anak-anak kecil, "dijual anak anjing". Segera saja seorang anak lelaki datang, masuk ke dalam toko dan bertanya "Berapa harga anak anjing yang anda jual itu?"

Pemilik toko itu menjawab, "Harganya berkisar antara 30 - 50 Dollar."

Anak lelaki itu lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa keping uang, "Aku hanya mempunyai 2,37 Dollar, bisakah aku melihat-lihat anak anjing yang anda jual itu?"

Pemilik toko itu tersenyum. Ia lalu bersiul memanggil anjing-anjingnya. Tak lama dari kandang aning munculah anjingnya yang bernama Lady yang diikuti oleh lima ekor anak anjing. Mereka berlari-larian di sepanjang lorong toko. Tetapi, ada satu anak anjing yang tampak berlari tertinggal paling belakang.

Si anak lelaki itu menunjuk pada anak anjing yang paling terbelakang dan tampak cacat itu. Tanyanya, "Kenapa dengan anak anjing itu?"

Pemilik toko menjelaskan bahwa ketika dilahirkan anak anjing itu mempunyai kelainan di pinggulnya, dan akan menderita cacat seumur hidupnya.

Anak lelaki itu tampak gembira dan berkata, "Aku beli anak anjing yang cacat itu."

Pemilik toko itu menjawab, "Jangan, jangan beli anak anjing yang cacat itu. Tapi jika kau ingin memilikinya, aku akan berikan anak anjing itu padamu."

Anak lelaki itu jadi kecewa. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, "Aku tak mau kau memberikan anak anjing itu cuma-cuma padaku. Meski cacat anak anjing itu tetap mempunyai harga yang sama sebagaimana anak anjing yang lain. Aku akan bayar penuh harga anak anjing itu. Saat ini aku hanya mempunyai 2,35 Dollar. Tetapi setiap hari akan akan mengangsur 0,5 Dollar sampai lunas harga anak anjing itu."

Tetapi lelaki itu menolak, "Nak, kau jangan membeli anak anjing ini. Dia tidak bisa lari cepat. Dia tidak bisa melompat dan bermain sebagaiman anak anjing lainnya."

Anak lelaki itu terdiam. Lalu ia melepas menarik ujung celana panjangnya. Dari balik celana itu tampaklah sepasang kaki yang cacat. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, "Tuan, aku pun tidak bisa berlari dengan cepat. Aku pun tidak bisa melompat-lompat dan bermain-main sebagaimana anak lelaki lain. Oleh karena itu aku tahu, bahwa anak anjing itu membutuhkan seseorang yang mau mengerti penderitaannya."

Kini pemilik toko itu menggigit bibirnya. Air mata menetes dari sudut matanya. Ia tersenyum dan berkata, "Aku akan berdoa setiap hari agar anak-anak anjing ini mempunyai majikan sebaik engkau."

Anak Kecil Penjaja Kue

Seorang pemuda yang sedang lapar pergi menuju restoran jalanan dan iapun menyantap makanan yang telah dipesan. Saat pemuda itu makan datanglah seorang anak kecil laki-laki menjajakan kue kepada pemuda tersebut, "Pak mau beli kue, Pak?" Dengan ramah pemuda yang sedang makan menjawab "Tidak,
saya sedang makan".

Anak kecil tersebut tidaklah berputus asa dengan tawaran pertama. Ia tawarkan lagi kue setelah pemuda itu selesai makan, pemuda tersebut menjawab "Tidak dik saya sudah kenyang".

Setelah pemuda itu membayar ke kasir dan beranjak pergi dari warung kaki lima, anak kecil penjaja kue tidak menyerah dengan usahanya yang sudah hampir seharian menjajakan kue buatan bunda. Mungkin anak kecil ini berpikir "Saya coba lagi tawarkan kue ini kepada bapak itu, siapa tahu kue ini dijadikan oleh-oleh buat orang dirumah".

Ini adalah sebuah usaha yang gigih membantu ibunda untuk menyambung kehidupan yang serba pas-pasan ini.

Saat pemuda tadi beranjak pergi dari warung tersebut anak kecil penjaja kue menawarkan ketiga kali kue dagangan. "Pak mau beli kue saya?", pemuda yang ditawarkan jadi risih juga untuk menolak yang ketiga kalinya, kemudian ia keluarkan uang Rp 1.500,- dari dompet dan ia berikan sebagai sedekah saja.

"Dik ini uang saya kasih, kuenya tidak usah saya ambil, anggap saja ini sedekahan dari saya buat adik".

Lalu uang yang diberikan pemuda itu ia ambil dan diberikan kepada pengemis yang sedang meminta-minta. Pemuda tadi jadi bingung, lho ini anak dikasih uang kok malah dikasihkan kepada orang lain.

"Kenapa kamu berikan uang tersebut, kenapa tidak kamu ambil?".

Anak kecil penjaja kue tersenyum lugu menjawab, "Saya sudah berjanji sama ibu di rumah, ingin menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis, dan saya akan bangga pulang ke rumah bertemu ibu kalau kue buatan ibu terjual habis. Dan uang yang saya berikan kepada ibu hasil usaha kerja keras saya. Ibu saya tidak suka saya jadi pengemis".

Pemuda tadi jadi terkagum dengan kata-kata yang diucapkan anak kecil penjaja kue yang masih sangat kecil buat ukuran seorang anak yang sudah punya etos kerja bahwa "kerja itu adalah sebuah kehormatan", kalau dia tidak sukses bekerja menjajakan kue, ia berpikir kehormatan kerja di hadapan ibunya mempunyai nilai yang kurang. Suatu pantangan bagi ibunya, bila anaknya menjadi pengemis, ia ingin setiap ia pulang ke rumah melihat ibu tersenyum menyambut kedatangannya dan senyuman bunda yang tulus ia balas dengan kerja yang terbaik dan menghasilkan uang.

Kemudian pemuda tadi memborong semua kue yang dijajakan lelaki kecil, bukan karena ia kasihan, bukan karena ia lapar tapi karena prinsip yang dimiliki oleh anak kecil itu "kerja adalah sebuah kehormatan", ia akan mendapatkan uang kalau ia sudah bekerja dengan baik.

Monday, June 18, 2007

Ada Kasih di Matamu

Sore itu adalah sore yang sangat dingin di Virginia bagian utara, berpuluh-puluh tahun yang lalu. Janggut si orang tua dilapisi es musim dingin selagi ia menunggu tumpangan menyeberangi sungai. Penantiannya seakan tak berakhir. Tubuhnya menjadi mati rasa dan kaku akibat angin utara yang dingin.

Samar-samar ia mendengar irama teratur hentakan kaki kuda yang berlari mendekat di atas jalan yang beku itu. Dengan gelisah ia mengawasi beberapa penunggang kuda memutari tikungan. Ia membiarkan kuda yang pertama lewat, tanpa berusaha untuk menarik perhatian. Lalu, satu lagi lewat, dan satu lagi. Akhirnya, penunggang kuda yang terakhir mendekati tempat si orang tua yang duduk seperti patung salju. Saat yang satu ini mendekat, si orang tua menangkap mata si penunggang, dan berkata, "Pak, maukah anda memberikan tumpangan pada orang tua ini ke seberang? Kelihatannya tak ada jalan untuk berjalan kaki."

Sambil menghentikan kudanya, si penunggang menjawab, "Tentu. Naiklah."

Melihat si orang tua tak mampu mengangkat tubuhnya yang setengah membeku dari atas tanah, si penunggang kuda turun dan menolongnya naik ke atas kuda. Si penunggang membawa si orang tua itu bukan hanya ke seberang sungai, tapi terus ke tempat tujuannya, yang hanya berjarak beberapa kilometer.

Selagi mereka mendekati pondok kecil yang nyaman, rasa ingin tahu si penunggang kuda mendorongnya untuk bertanya, "Pak, saya lihat tadi bapak membiarkan penunggang kuda lain lewat tanpa berusaha meminta tumpangan. Saya ingin tahu kenapa pada malam musim dingin begini bapak mau menunggu dan minta tolong pada penunggang terakhir. Bagaimana kalau saya tadi menolak dan meninggalkan bapak di sana?"

Si orang tua menurunkan tubuhnya perlahan dari kuda, memandang langsung mata si penunggang kuda, dan menjawab, "Saya sudah lama tinggal di daerah ini. Saya rasa saya cukup kenal dengan orang." Si orang tua melanjuntukan, "Saya memandang mata penunggang yang lain, dan langsung tahu bahwa di situ tidak ada perhatian pada keadaan saya. Pasti percuma saja saya minta tumpangan. Tapi waktu saya melihat ke matamu, kebaikan hati dan rasa kasihmu terlihat jelas. Saya tahu saat itu juga bahwa jiwamu yang lembut akan menyambut kesempatan untuk memberi saya pertolongan pada saat saya membutuhkannya."

Komentar yang menghangatkan hati itu menyentuh si penunggang kuda dengan dalam. "Saya berterima kasih sekali atas perkataan bapak", ia berkata pada si orang tua. "Mudah-mudahan saya tidak akan sibuk mengurus masalah saya sendiri hingga saya gagal menanggapi kebutuhan orang lain dengan kasih dan kebaikan hati saya."

Seraya berkata demikian, Thomas Jefferson si penunggang kuda itu, memutar kudanya dan melanjuntukan perjalanannya menuju ke Gedung Putih.

Sunday, June 17, 2007

Serbuk Kayu dan Arloji

Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.

Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut. Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.

"Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini?", tanya si tukang kayu. "Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi 'tik-tak, tik-tak'".
Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada", jawab anak itu.