Dulu, ada seorang Kaisar yang mengatakan pada salah seorang penunggang kudanya, jika dia bisa naik kuda dan menjelajahi daerah seluas apapun, Kaisar akan memberikan kepadanya daerah seluas yang bisa dijelajahinya. Kontan si penunggang kuda itu melompat ke punggung kudanya dan melesat secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin.
Dia melaju dan terus melaju, melecuti kudanya untuk lari secepat mungkin. Ketika lapar dan letih, dia tidak berhenti karena dia ingin menguasai dataran seluas mungkin. Akhirnya, sampailah dia pada suatu tempat di mana cukup luas daerah telah berhasil dijelajahinya, dan dia menjadi begitu kelelahan dan hampir mati. Lalu dia berkata terhadap dirinya sendiri, "Mengapa aku memaksa diri begitu keras untuk menguasai daerah yang begitu luas? Sekarang aku sudah sekarat, dan aku hanya butuh tempat yang begitu kecil untuk menguburkan diriku sendiri."
Showing posts with label Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Kehidupan. Show all posts
Monday, August 6, 2007
Wednesday, August 1, 2007
Sedikit Bukanlah Sia-Sia
Ketika masih tinggal di kampung, saya sering mendengar lagu-lagu merdu yang dimainkan seorang pengamen tua menggunakan harmonikanya. Pak Slamet, nama pengamen itu, adalah orang yang sederhana. Walau begitu, ia selalu tampil rapi dengan baju bersih yang dimasukkan. Rambutnya dipotong pendek dan tersisir lurus ke belakang.
Ia biasanya berdiri di depan pintu dengan sikap tegak seperti orang mengheningkan cipta, lalu mulai memainkan harmonikanya. Matanya berkali-kali terpejam saat mengalunkan nada-nada yang mengalir seperti air, tanda ia sungguh kusyuk menyampaikan lagunya.
Meski tak mengerti lagu apa yang dimainkan Pak Slamet, kesungguhannya bermain harmonika telah menarik saya untuk mengetahui apa yang dia lantunkan. Dalam salah satu kesempatan, saya bertanya, "Pak, itu lagu apa?"
Ia menjawab dalam bahasa Jawa halus, yang kira-kira terjemahannya demikian: "Ini adalah lagu agar orang-orang yang mendengarnya menjadi tenteram dan damai. Banyak orang tidak tenteram karena pikiran. Semoga saya bisa membantu menenteramkan mereka."
Jawaban itu sungguh tidak saya sangka - sangka. Tadinya saya mengira akan mendapat jawaban bahwa lagu itu lagu Jawa kuno, atau lagu pop masa lalu. Ternyata dugaan tersebut meleset. Bagaimana mungkin orang tua ini memiliki pemikiran seperti itu? dalam hati kubertanya.
Tapi saya, yang waktu itu adalah seorang mahasiswa dengan pengetahuan maha luas, yang percaya hanya tindakan besarlah yang bisa mengubah dunia, kembali melontarkan pertanyaan dengan nada sedikit melecehkan, "Lalu sudah sampai mana Pak Slamet menyebarkan ketenteraman itu? Sudah berapa orang yang mendengarnya dan sembuh dari kegalauan hidupnya?"
Ia menjawab tersenyum, "Hanya pada beberapa orang yang rumahnya saya lewati di sekitar sini. Semoga ada satu atau dua di antara mereka menjadi damai karena mendengar lagu saya, walau tidak bagus saya memainkannya. Syukur kalau kedamaian itu ditularkan."
Jawaban tersebut menunjukkan betapa besar hatinya dan membuat kecut hatiku. Dalam kesederhanaannya, pengamen tua itu memberikan apa yang bisa disumbangkan bagi orang lain. Tampaknya remeh, karena lagu - lagunya hanya dihargai seratus perak dan hanya didengar oleh segelintir orang di sebuah wilayah kecil. Tapi ketulusan dan kesungguhannya dalam memberi, bernilai jauh lebih tinggi dari itu.
Ia biasanya berdiri di depan pintu dengan sikap tegak seperti orang mengheningkan cipta, lalu mulai memainkan harmonikanya. Matanya berkali-kali terpejam saat mengalunkan nada-nada yang mengalir seperti air, tanda ia sungguh kusyuk menyampaikan lagunya.
Meski tak mengerti lagu apa yang dimainkan Pak Slamet, kesungguhannya bermain harmonika telah menarik saya untuk mengetahui apa yang dia lantunkan. Dalam salah satu kesempatan, saya bertanya, "Pak, itu lagu apa?"
Ia menjawab dalam bahasa Jawa halus, yang kira-kira terjemahannya demikian: "Ini adalah lagu agar orang-orang yang mendengarnya menjadi tenteram dan damai. Banyak orang tidak tenteram karena pikiran. Semoga saya bisa membantu menenteramkan mereka."
Jawaban itu sungguh tidak saya sangka - sangka. Tadinya saya mengira akan mendapat jawaban bahwa lagu itu lagu Jawa kuno, atau lagu pop masa lalu. Ternyata dugaan tersebut meleset. Bagaimana mungkin orang tua ini memiliki pemikiran seperti itu? dalam hati kubertanya.
Tapi saya, yang waktu itu adalah seorang mahasiswa dengan pengetahuan maha luas, yang percaya hanya tindakan besarlah yang bisa mengubah dunia, kembali melontarkan pertanyaan dengan nada sedikit melecehkan, "Lalu sudah sampai mana Pak Slamet menyebarkan ketenteraman itu? Sudah berapa orang yang mendengarnya dan sembuh dari kegalauan hidupnya?"
Ia menjawab tersenyum, "Hanya pada beberapa orang yang rumahnya saya lewati di sekitar sini. Semoga ada satu atau dua di antara mereka menjadi damai karena mendengar lagu saya, walau tidak bagus saya memainkannya. Syukur kalau kedamaian itu ditularkan."
Jawaban tersebut menunjukkan betapa besar hatinya dan membuat kecut hatiku. Dalam kesederhanaannya, pengamen tua itu memberikan apa yang bisa disumbangkan bagi orang lain. Tampaknya remeh, karena lagu - lagunya hanya dihargai seratus perak dan hanya didengar oleh segelintir orang di sebuah wilayah kecil. Tapi ketulusan dan kesungguhannya dalam memberi, bernilai jauh lebih tinggi dari itu.
Thursday, July 19, 2007
Jam Demi Jam
Seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya, "Ayah, bisakah seseorang melewati seumur hidupnya tanpa berbuat dosa?"
Ayahnya menjawab sambil tersenyum, "Tak mungkin, nak."
"Bisakah seseorang hidup setahun tanpa berbuat dosa?" ,tanyanya lagi.
Ayahnya berkata: "Tak mungkin, nak."
"Bisakah seseorang hidup sebulan tanpa berbuat dosa?"
Lagi-lagi ayahnya berkata, "Tak mungkin, nak."
"Bisakah seseorang hidup sehari saja tanpa berbuat dosa?" gadis kecil itu bertanya lagi. Ayahnya mengernyitkan dahi dan berpikir keras untuk menjawab, "Mmm.. mungkin bisa, nak."
"Lalu.... bisakah seseorang hidup satu jam tanpa dosa? tanpa berbuat jahat untuk beberapa saat, hanya waktu demi waktu saja, yah? Bisakah?"
Ayahnya tertawa dan berkata, "Nah, kalau itu pasti bisa, nak."
Gadis kecil itu tersenyum lega dan berkata, "Kalau begitu ayah, aku mau memperhatikan hidupku jam demi jam, waktu demi waktu, momen demi momen, supaya aku bisa belajar tidak berbuat dosa. Kurasa hidup jam demi jam lebih mudah dijalani, ya?"
Ayahnya menjawab sambil tersenyum, "Tak mungkin, nak."
"Bisakah seseorang hidup setahun tanpa berbuat dosa?" ,tanyanya lagi.
Ayahnya berkata: "Tak mungkin, nak."
"Bisakah seseorang hidup sebulan tanpa berbuat dosa?"
Lagi-lagi ayahnya berkata, "Tak mungkin, nak."
"Bisakah seseorang hidup sehari saja tanpa berbuat dosa?" gadis kecil itu bertanya lagi. Ayahnya mengernyitkan dahi dan berpikir keras untuk menjawab, "Mmm.. mungkin bisa, nak."
"Lalu.... bisakah seseorang hidup satu jam tanpa dosa? tanpa berbuat jahat untuk beberapa saat, hanya waktu demi waktu saja, yah? Bisakah?"
Ayahnya tertawa dan berkata, "Nah, kalau itu pasti bisa, nak."
Gadis kecil itu tersenyum lega dan berkata, "Kalau begitu ayah, aku mau memperhatikan hidupku jam demi jam, waktu demi waktu, momen demi momen, supaya aku bisa belajar tidak berbuat dosa. Kurasa hidup jam demi jam lebih mudah dijalani, ya?"
Wednesday, July 18, 2007
Yang Terpenting
Saat badai tornado dahsyat menerjang daerah Will County, Illinois, seorang ayah muda sedang duduk sambil menimang bayinya yang baru berusia tiga minggu. Setelah angin ganas yang menderu-deru itu reda, dan keadaan mulai tenang, rumah laki-laki itu telah lenyap, begitu pula bayinya. Namun, menurut sebuah laporan berita, ia berhasil menemukan bayinya di lapangan dekat rumahnya dalam keadaan hidup dan selamat! Begitu pula dengan anggota keluarganya yang lain.
Ketika ditanya seorang reporter apakah ia marah karena kehilangan segala harta bendanya, ia menjawab, "Tidak, saya justru bersyukur karena bayi dan keluarga saya selamat. Sebagian orang tidak seberuntung saya. Tak ada lagi yang lebih penting dari itu semua."
Ketika ditanya seorang reporter apakah ia marah karena kehilangan segala harta bendanya, ia menjawab, "Tidak, saya justru bersyukur karena bayi dan keluarga saya selamat. Sebagian orang tidak seberuntung saya. Tak ada lagi yang lebih penting dari itu semua."
Monday, July 16, 2007
Gema
Seorang bocah mengisi waktu luang dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya. Entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh.
"Aduhh!" jeritannya memecah keheningan suasana pegunungan.
Si bocah amat terkejut, ketika ia mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya persis sama, "Aduhh!"
Dasar anak-anak, ia berteriak lagi, "Hei! Siapa kau?"
Jawaban yang terdengar, "Hei! Siapa kau?"
Lantaran kesal mengetahui suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, "Pengecut kamu!"
Lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan serupa. Ia bertanya kepada sang ayah, "Apa yang terjadi?"
Dengan penuh kearifan sang ayah tersenyum, "Anakku, coba perhatikan."
Lelaki itu berkata keras, "Saya kagum padamu!"
Suara di kejauhan menjawab, "Saya kagum padamu!"
Sekali lagi sang ayah berteriak "Kamu sang juara!" Suara itu menjawab, "Kamu sang juara!"
Sang bocah sangat keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti. Lalu sang ayah menjelaskan, "Suara itu adalah gema, tapi sesungguhnya itulah kehidupan."
Kehidupan memberi umpan balik atas semua ucapan dan tindakanmu. Dengan kata lain, kehidupan kita adalah sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan kita. Bila kamu ingin mendapatkan lebih banyak cinta di dunia ini, ya ciptakan cinta di dalam hatimu.
"Aduhh!" jeritannya memecah keheningan suasana pegunungan.
Si bocah amat terkejut, ketika ia mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya persis sama, "Aduhh!"
Dasar anak-anak, ia berteriak lagi, "Hei! Siapa kau?"
Jawaban yang terdengar, "Hei! Siapa kau?"
Lantaran kesal mengetahui suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, "Pengecut kamu!"
Lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan serupa. Ia bertanya kepada sang ayah, "Apa yang terjadi?"
Dengan penuh kearifan sang ayah tersenyum, "Anakku, coba perhatikan."
Lelaki itu berkata keras, "Saya kagum padamu!"
Suara di kejauhan menjawab, "Saya kagum padamu!"
Sekali lagi sang ayah berteriak "Kamu sang juara!" Suara itu menjawab, "Kamu sang juara!"
Sang bocah sangat keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti. Lalu sang ayah menjelaskan, "Suara itu adalah gema, tapi sesungguhnya itulah kehidupan."
Kehidupan memberi umpan balik atas semua ucapan dan tindakanmu. Dengan kata lain, kehidupan kita adalah sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan kita. Bila kamu ingin mendapatkan lebih banyak cinta di dunia ini, ya ciptakan cinta di dalam hatimu.
Subscribe to:
Posts (Atom)