Showing posts with label Tindak Kebaikan. Show all posts
Showing posts with label Tindak Kebaikan. Show all posts

Sunday, August 12, 2007

Masih Ada Bis Lain

Pada suatu malam yang dingin dan hujan, saya sedang menunggu bis. Saya melihat seorang perempuan tua turun dari sebuah bis dan kemudian berjalan perlahan ke tempat pemberhentian bis. Setelah berdiam beberapa saat dia berbicara kepada saya. "Malam yang buruk, ya? Tapi saya harap saya tidak perlu menunggu terlalu lama." Dengan sedikit ingin tahu, saya bertanya tentang bis mana yang ia tunggu.

Ketika ia memberi tahu, saya berkata, "Lho, Anda baru saja turun dari bis sebelum tempat yang anda tuju?" "Begini, katanya terbata-bata dengan sedikit malu, "di bis tadi ada seorang pemuda cacat. Tak seorang pun menawarkan tempat duduk kepadanya, dan saya tahu bahwa dia akan merasa malu kalau seorang ibu tua seperti saya berdiri untuknya. Karena itu saya berpura-pura sudah waktunya untuk turun dan saya membunyikan bel ketika ia sedang berada di sisi kursi saya. Dia tidak merasa malu, dan bagi saya – masih selalu ada bis lain."

Wednesday, August 1, 2007

Sedikit Bukanlah Sia-Sia

Ketika masih tinggal di kampung, saya sering mendengar lagu-lagu merdu yang dimainkan seorang pengamen tua menggunakan harmonikanya. Pak Slamet, nama pengamen itu, adalah orang yang sederhana. Walau begitu, ia selalu tampil rapi dengan baju bersih yang dimasukkan. Rambutnya dipotong pendek dan tersisir lurus ke belakang.

Ia biasanya berdiri di depan pintu dengan sikap tegak seperti orang mengheningkan cipta, lalu mulai memainkan harmonikanya. Matanya berkali-kali terpejam saat mengalunkan nada-nada yang mengalir seperti air, tanda ia sungguh kusyuk menyampaikan lagunya.

Meski tak mengerti lagu apa yang dimainkan Pak Slamet, kesungguhannya bermain harmonika telah menarik saya untuk mengetahui apa yang dia lantunkan. Dalam salah satu kesempatan, saya bertanya, "Pak, itu lagu apa?"

Ia menjawab dalam bahasa Jawa halus, yang kira-kira terjemahannya demikian: "Ini adalah lagu agar orang-orang yang mendengarnya menjadi tenteram dan damai. Banyak orang tidak tenteram karena pikiran. Semoga saya bisa membantu menenteramkan mereka."

Jawaban itu sungguh tidak saya sangka - sangka. Tadinya saya mengira akan mendapat jawaban bahwa lagu itu lagu Jawa kuno, atau lagu pop masa lalu. Ternyata dugaan tersebut meleset. Bagaimana mungkin orang tua ini memiliki pemikiran seperti itu? dalam hati kubertanya.

Tapi saya, yang waktu itu adalah seorang mahasiswa dengan pengetahuan maha luas, yang percaya hanya tindakan besarlah yang bisa mengubah dunia, kembali melontarkan pertanyaan dengan nada sedikit melecehkan, "Lalu sudah sampai mana Pak Slamet menyebarkan ketenteraman itu? Sudah berapa orang yang mendengarnya dan sembuh dari kegalauan hidupnya?"

Ia menjawab tersenyum, "Hanya pada beberapa orang yang rumahnya saya lewati di sekitar sini. Semoga ada satu atau dua di antara mereka menjadi damai karena mendengar lagu saya, walau tidak bagus saya memainkannya. Syukur kalau kedamaian itu ditularkan."

Jawaban tersebut menunjukkan betapa besar hatinya dan membuat kecut hatiku. Dalam kesederhanaannya, pengamen tua itu memberikan apa yang bisa disumbangkan bagi orang lain. Tampaknya remeh, karena lagu - lagunya hanya dihargai seratus perak dan hanya didengar oleh segelintir orang di sebuah wilayah kecil. Tapi ketulusan dan kesungguhannya dalam memberi, bernilai jauh lebih tinggi dari itu.

Sunday, July 22, 2007

Bintang Laut

Ketika fajar menyingsing, seorang lelaki tua berjalan-jalan di pinggir pantai sambil menikmati angin laut yang segar menerpa bibir pantai.

Di kejauhan dilihatnya seorang anak sedang memungut bintang laut dan melemparkannya kembali ke dalam air. Setelah mendekati anak itu, lelaki tua itu bertanya heran;

'Mengapa engkau mengumpulkan dan melemparkan kembali bintang laut itu ke dalam air?', Tanyanya.

'Karena bila dibiarkan hingga matahari pagi datang menyengat, bintang laut yang terdampar itu akan segera mati kekeringan.' Jawab si kecil itu.

'Tapi pantai ini luas dan bermil-mil panjangnya.' Kata lelaki tua itu sambil menunjukkan jarinya yang mulai keriput ke arah pantai pasir yang luas itu.

'Lagi pula ada jutaan bintang laut yang terdampar. Aku ragu apakah usahamu itu sungguh mempunyai arti yang besar.' Lanjutnya penuh ragu. Anak itu lama memandang bintang laut yang ada di tangannya tanpa berkata sepatahpun. Lalu dengan perlahan ia melemparkannya ke dalam laut agar selamat dan hidup.

'Saya yakin usahaku sungguh memiliki arti yang besar, sekurang-kurangnya bagi yang satu ini.' Kata si kecil itu.

Wednesday, July 4, 2007

Olimpiade Yang Istimewa

Beberapa tahun lalu, diadakan olimpiade khusus orang-orang cacat di Seattle. Saat itu dilakukan pertandingan lari jarak 100 meter. Sembilan pelari telah bersiap-siap di tempat start masing-masing.

Ketika pistol tanda pertandingan dinyalakkan, mereka semua berlari, meski tidak tepat berada di garis lintasannya, namun semuanya berlari dengan wajah gembira menuju garis finish dan berusaha untuk memenangkan pertandingan. Kecuali, seorang pelari, anak lelaki, tiba-tiba tersandung dan terjatuh berguling beberapa kali. Ia lalu menangis.

Delapan pelari mendengar tangisan anak lelaki yang terjatuh itu. Mereka lalu memperlambat lari mereka dan menoleh ke belakang. Mereka semua berbalik dan berlarian menuju anak lelaki yang terjatuh di tanah itu. Semuanya, tanpa terkecuali.

Seorang gadis yang menyandang cacat keterbelakangan mental menunduk, memberikan sebuah ciuman padanya dan berkata, "Semoga ini membuatmu merasa lebih baik." Kemudian kesembilan pelari itu saling bergandengan tangan, berjalan bersama menyelesaikan pertandingan menuju garis finish.

Seluruh penonton yang ada di stadion itu berdiri, memberikan salut selama beberapa lama. Mereka yang berada di sana saat itu masih saja tak bosan-bosannya meneruskan kejadian ini. Tahukah anda mengapa? Karena di dalam diri kita yang terdalam kita tahu bahwa: dalam hidup ini tak ada yang jauh lebih berharga daripada kemenangan bagi kita semua. Yang terpenting dalam hidup ini adalah saling tolong menolong meraih kemenangan, meski kita harus mengalah dan mengubah diri kita sendiri.

Wednesday, June 27, 2007

Tiada Perbuatan Baik Yang Kecil

Hari itu hari Kamis, hari pengucapan syukur, hari yang direncanakan sebagai hari untuk ibadah. Hari khusus itu merupakan tradisi mingguan yang diprakarsai oleh dua gadis kecil, anakku dan aku sendiri sejak beberapa tahun lalu. Hari Kamis menjadi hari bagi kami untuk keluar ke alam bebas dan memberikan sumbangan positif. Pada hari Kamis yang khusus ini, kami tak punya gagasan pasti apa yang akan kami lakukan, tetapi kami tahu sesuatu akan muncul dengan sendirinya.

Sambil mengendarai mobil di sepanjang jalan Houston yang ramai, berdoa mohon bimbingan terhadap hasrat kami untuk memenuhi janji Hari Perbuatan Baik pekan itu. Ketika hari menjelang siang, sudah tentu perut dua bocah kecilku mulai lapar. Mereka berupaya menyadarkanku akan situasi mereka dengan bernyanyi, "McDonald, McDonald, McDonald, ...." sepanjang perjalanan. Aku menyerah dan dengan bersungguh-sungguh mulai mencari-cari McDonald terdekat. Mendadak aku sadar bahwa di setiap persimpangan jalan yang kulewati selalu ada beberapa pengemis. Hal itu menggugah hatiku! Jika dua anakku yang kecil saja kelaparan, semua pengemis itu tentunya kelaparan juga.

Tepat! Sasaran Perbuatan Baik yang akan kami lakukan telah muncul dengan sendirinya. Kami pergi membeli makan siang untuk para pengemis itu. Setelah menemukan McDonald dan memesan dua Happy Meals untuk gadis-gadis kecil itu, aku memesan tambahan 15 kotak makan siang dan kami pun keluar untuk membagikannya. Benar-benar menggembirakan. Kami menghampiri setiap pengemis, memberikan sumbangan kami, lalu memberitahu mereka bahwa kami berharap keadaan mereka baik-baik saja. Lalu kami mengatakan, "Eh omong-omong, ini ada makan siang." Lalu kami pun melaju ke persimpangan berikutnya. Itu adalah cara terbaik untuk memberi. Tak ada waktu cukup bagi kami untuk memperkenalkan diri kami atau menerangkan apa yang kami lakukan, juga tak ada waktu bagi mereka untuk mengatakan sesuatu kembali kepada kami.

Perbuatan Baik itu anonim dan memberi kekuatan kepada kami masing-masing, dan kami senang melihat apa yang tampak dari kaca belakang; seseorang yang terperanjat penuh kegembiraan mengangkat tas makan siangnya lalu memandang kami yang melaju pergi. Benar-benar indah!

Kami sudah mendekati akhir rute kami hari itu dan ada seorang wanita kecil berdiri, meminta uang kecil. Kami memberikan sedekah ala kadarnya dan kantong makan siang terakhir yang kami miliki, lalu buru-buru berputar ke arah yang berlawanan-pulang ke rumah. Sial, lampu merah menahan kami kembali dan kami pun berhenti di persimpangan yang sama dimana si wanita kecil tadi berdiri. Aku merasa malu dan tak tahu harus bersikap bagaimana. Aku tak ingin wanita itu merasa terpaksa mengatakan atau melakukan sesuatu.

Dia bergerak ke mobil kami, maka kuturunkan jendela ketika dia mulai berbicara, "Tak seorang pun pernah melakukan hal seperti ini untukku sebelumnya," katanya dengan takjub. Aku menjawab, "Yah, aku bahagia kami menjadi yang pertama." Merasa tak enak, dan ingin memperpanjang percakapan itu saya pun bertanya, "Lalu, kapan kamu akan memakan santapan siangmu?"

Dia hanya melihat padaku dengan mata coklatnya yang besar dan sayu, lalu berkata, "Oh sayang, aku tak akan memakannya." Aku terheran-heran, tetapi sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, ia melanjutkan. "Anda tahu, aku punya seorang gadis kecil di rumah dan dia suka sekali McDonald, tetapi aku tak pernah mampu membelikan untuknya karena aku benar-benar tak punya uang. Tetapi tahukah Anda ... malam ini dia akan makan McDonald!"

Aku tak tahu apakah anak-anak melihat air mata di pelupuk mataku. Begitu sering aku bertanya apakah Perbuatan Baik yang kami lakukan begitu remeh atau tak punya arti untuk mendatangkan perubahan yang nyata. Namun pada saat itu aku menyadari kebenaran kata-kata Ibu Teresa :"Kita tak mampu melakukan hal-hal yang besar kita hanya mampu melakukan hal-hal yang kecil dengan cinta yang besar."

Sunday, June 24, 2007

Apakah Saya Akan Langsung Mati Dokter?

Waktu itu, ketika saya masih seorang sukarelawan yang bekerja di sebuah rumah sakit, saya berkenalan dengan seorang gadis kecil yang bernama Liz, seorang penderita satu penyakit serius yang sangat jarang. Kesempatan sembuh, hanya ada pada adiknya, seorang pria kecil yang berumur lima tahun, yang secara mujizat sembuh dari penyakit yang sama. Anak ini memiliki antibodi yang diperlukan untuk melawan penyakit itu.

Dokter kemudian mencoba menerangkan situasi lengkap medikal tersebut ke anak kecil ini, dan bertanya apakah ia siap memberikan darahnya kepada kakak perempuannya. Saya melihat si kecil itu ragu-ragu sebentar, sebelum mengambil nafas panjang dan berkata "Baiklah... Saya akan melakukan hal tersebut asalkan itu bisa menyelamatkan kakakku". Mengikuti proses tranfusi darah, si kecil ini berbaring di tempat tidur,disamping kakaknya. Wajah sang kakak mulai memerah, tetapi Wajah si kecil mulai pucat dan senyumnya menghilang.

Si kecil melihat ke dokter itu, dan bertanya dalam suara yang bergetar...katanya "Apakah saya akan langsung mati dokter?"Rupanya si kecil sedikit salah pengertian. Ia merasa, bahwa ia harus menyerahkan semua darahnya untuk menyelamatkan jiwa kakaknya.

Monday, June 18, 2007

Ada Kasih di Matamu

Sore itu adalah sore yang sangat dingin di Virginia bagian utara, berpuluh-puluh tahun yang lalu. Janggut si orang tua dilapisi es musim dingin selagi ia menunggu tumpangan menyeberangi sungai. Penantiannya seakan tak berakhir. Tubuhnya menjadi mati rasa dan kaku akibat angin utara yang dingin.

Samar-samar ia mendengar irama teratur hentakan kaki kuda yang berlari mendekat di atas jalan yang beku itu. Dengan gelisah ia mengawasi beberapa penunggang kuda memutari tikungan. Ia membiarkan kuda yang pertama lewat, tanpa berusaha untuk menarik perhatian. Lalu, satu lagi lewat, dan satu lagi. Akhirnya, penunggang kuda yang terakhir mendekati tempat si orang tua yang duduk seperti patung salju. Saat yang satu ini mendekat, si orang tua menangkap mata si penunggang, dan berkata, "Pak, maukah anda memberikan tumpangan pada orang tua ini ke seberang? Kelihatannya tak ada jalan untuk berjalan kaki."

Sambil menghentikan kudanya, si penunggang menjawab, "Tentu. Naiklah."

Melihat si orang tua tak mampu mengangkat tubuhnya yang setengah membeku dari atas tanah, si penunggang kuda turun dan menolongnya naik ke atas kuda. Si penunggang membawa si orang tua itu bukan hanya ke seberang sungai, tapi terus ke tempat tujuannya, yang hanya berjarak beberapa kilometer.

Selagi mereka mendekati pondok kecil yang nyaman, rasa ingin tahu si penunggang kuda mendorongnya untuk bertanya, "Pak, saya lihat tadi bapak membiarkan penunggang kuda lain lewat tanpa berusaha meminta tumpangan. Saya ingin tahu kenapa pada malam musim dingin begini bapak mau menunggu dan minta tolong pada penunggang terakhir. Bagaimana kalau saya tadi menolak dan meninggalkan bapak di sana?"

Si orang tua menurunkan tubuhnya perlahan dari kuda, memandang langsung mata si penunggang kuda, dan menjawab, "Saya sudah lama tinggal di daerah ini. Saya rasa saya cukup kenal dengan orang." Si orang tua melanjuntukan, "Saya memandang mata penunggang yang lain, dan langsung tahu bahwa di situ tidak ada perhatian pada keadaan saya. Pasti percuma saja saya minta tumpangan. Tapi waktu saya melihat ke matamu, kebaikan hati dan rasa kasihmu terlihat jelas. Saya tahu saat itu juga bahwa jiwamu yang lembut akan menyambut kesempatan untuk memberi saya pertolongan pada saat saya membutuhkannya."

Komentar yang menghangatkan hati itu menyentuh si penunggang kuda dengan dalam. "Saya berterima kasih sekali atas perkataan bapak", ia berkata pada si orang tua. "Mudah-mudahan saya tidak akan sibuk mengurus masalah saya sendiri hingga saya gagal menanggapi kebutuhan orang lain dengan kasih dan kebaikan hati saya."

Seraya berkata demikian, Thomas Jefferson si penunggang kuda itu, memutar kudanya dan melanjuntukan perjalanannya menuju ke Gedung Putih.