Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Monday, July 30, 2007

Ketika Aku Sudah Tua

Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula. Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.

Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.

Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku.

Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku.

Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap "mengapa" darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.

Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat.

Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.

Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan.

Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.

Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.

Wednesday, July 18, 2007

Yang Terpenting

Saat badai tornado dahsyat menerjang daerah Will County, Illinois, seorang ayah muda sedang duduk sambil menimang bayinya yang baru berusia tiga minggu. Setelah angin ganas yang menderu-deru itu reda, dan keadaan mulai tenang, rumah laki-laki itu telah lenyap, begitu pula bayinya. Namun, menurut sebuah laporan berita, ia berhasil menemukan bayinya di lapangan dekat rumahnya dalam keadaan hidup dan selamat! Begitu pula dengan anggota keluarganya yang lain.

Ketika ditanya seorang reporter apakah ia marah karena kehilangan segala harta bendanya, ia menjawab, "Tidak, saya justru bersyukur karena bayi dan keluarga saya selamat. Sebagian orang tidak seberuntung saya. Tak ada lagi yang lebih penting dari itu semua."

Wednesday, July 11, 2007

Kata-Kata Kasar

Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. "Oh, maafkan saya" adalah reaksi saya. Ia berkata, "Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda." Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda. Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. "Minggir," kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya. Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku, "Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang.

Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu." "Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu." Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, "Bangun, nak, bangun," kataku "Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?" Ia tersenyum, " Aku menemukannya jatuh dari pohon. " "Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru." Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi." Si kecilku berkata, "Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu." Aku pun membalas, "Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru."

Monday, July 9, 2007

Lelaki Berduka

Seorang lelaki penuh luka dalam hidupnya. Ia selalu merasa gagal dalam setiap pekerjaan bahkan dalam hal membina sebuah rumah tangga yang utuh dengan istrinya. Walaupun cintanya "tanpa pamrih," cinta yang utuh, tulus tanpa ada pertimbangan "untung dan rugi." Ia cinta pekerjaanya, ia cinta istri dan anak semata wayangnya, ia cinta akan mereka yang selalu mengasuhnya termasuk sahabat-sahabatnya.

Karena ia yakin cinta tanpa pamrihnya itu akan membawa hasil yang maksimal. Kegagalan yang ia rasakan semakin menggunung, seakan meledak saat itu akan meledak bagai bom yang bisa menghancurkan segalanya. Ia sadari kekurangannya. Tetapi kesalahan dan kegagalannya mengalahkan cintanya, hingga kemelut dirinya melitit hati terdalamnya. Ia selalu mengumpat orang lain yang membuat kegagalannya. Cinta tanpa pamrihnya luntur.

Melihat anaknya dirundung duka yang panjang, perempuan renta yang mengenalkan ia kedunia bertanya, "Anakku, apa yang yang membuat engkau berduka, bukankah hidup ini mulia, anakku."

Ia menjawab dengan lirih, "Ma, rasanya aku tak berdaya, tiada berguna aku hidup, nyawaku inipun tak mengandung arti apa-apa karena aku manusia pemarah dan selalu membuat kesalahan, padahal bukan karena aku."

Sang ibu berkata, " Itu masalah yang bisa diselesaikan anakku"

Ia menjawab dengan muka merah dan heran, "Aku gagal Ma, hidupku ini selalu jadi masalah, dan ini masalah besar bagiku dan orang lain."

Perempuan renta itu tidak mampu titik temu untuk meredakan emosi lelaki berduka.

Hari itu semakin gelap untuknya, dunia ini semakin gelap bahkan hidupnya tanpa matahari dan rembulan . Ia bergumam, "Hidup mulia? bukan, hidup ini tidak mulia, sayang. Hantu kegagalan terus mendayu dalam hatinya. Ia meraih seutas tali yang selama ini untuk menampung kegagalan. Bunuh diri! ya bunuh diri akan menyelesaikan masalahku." Ia berjalan menuju kebun yang selama ini menjadi tempat hiburannya.

Saat tali sudah mengikat menggantung leher dan pohon rambutan, sang ibu datang dengan tergopoh - gopoh.

"Anakku akan aku relakan engkau untuk mati dengan maumu, jika engkau tak mau dengar suara orang lain, beri barang sedetik untuk bertanya padamu. Kapan "masa emas" yang engkau alami selama hidupmu?"

Ia menjawab, "Saat aku merasa benar dan hidup kecukupan."

Sang Ibu menjawab, "Ya, mungkin itu yang selalu kamu harapkan dalam hidup ini hingga kesalahan, masalah yang ada dan kegagalan tidak engkau lihat sebagai awal untuk menemukan matahari, akhirnya tali itu akan mengakhirinya. Tapi bukan itu anakku, masa emas kita adalah 'Masa' dimana kita menyadari bahwa masalah itu timbul dari kita sendiri, bukan karena orang lain. Bila kita menyadari itu, kita bisa melihat apa yang membuat kegagalan, apa yang menjadi masalah dan bisa melihat pada diri kita sendiri, dan paling tidak kita akan punya kesempatan untuk memperbaiki dan mampu untuk tidak mengulanginya kembali, dan mencoba berusaha berbuat yang paling baik paling tidak untuk kita sendiri, Tetapi bila engkau masalah itu selalu engkau pikir disebabkan karena orang lain, engkau akan selalu merasa benar, padahal sebetulnya salah dan bila kesalahan lain menimpa akan menjadi bom yang siap meledakkan nyawamu. Kita sendiri menyumbang kegagalan itu, bukan ia dan bukan juga mereka, bahkan timbul dendam."

"Sekarang terserah engkau anakku, bila engkau masih mau dengar orang lain,dan kembali bersama mataharimu" lanjut sang ibu.

Perlahan ia lepaskan tali yang menggantung dilehernya, memeluk ibunya, memeluk istri dan anak tercintanya ia memeluk seluruh kehidupannya dan menemukan matahari

Tuesday, July 3, 2007

Belajar Mendengarkan

Anda pasti tahu bagaimana rasanya menerima telepon di tengah malam. Tapi, malam itu semuanya terasa berbeda. Aku terlonjak dari tidurku ketika telepon di samping tempat tidur berdering-dering. Aku berusaha melihat jam beker dalam gelap. Cahaya illuminasi dari jam itu menunjukkan tepat tengah malam. Dengan panik aku segera mengangkat gagang telepon. "Hallo?" dadaku berdegub-degub kencang. Aku memegang gagang telepon itu erat-erat. Kini suamiku terbangun dan menatap wajahku lekat-lekat. "Mama?" terdengar suara di seberang sana.

Aku masih bisa mendengar bisikannya di tengah-tengah dengung telepon. Pikiranku langsung tertuju pada anak gadisku. Ketika suara itu semakin jelas, aku meraih dan menarik-narik pergelangan tangan suamiku. "Mama, aku tahu ini sudah larut malam. Tapi jangan... jangan berkata apa-apa dahulu sampai aku selesai bicara. Dan, sebelum mama menanyai aku macam-macam, ya aku mengaku ma. Malam ini aku mabuk. Beberapa hari ini aku lari dari rumah, dan..."

Aku tercekat. Nafasku tersenggal-senggal. Aku lepaskan cengkeraman pada suamiku dan menekan kepalaku keras-keras. Kantuk masih mengaburkan pikiranku. Dan, aku berusaha agar tidak panik. Ada sesuatu yang tidak beres.

Dan aku takut sekali. Yang ada dalam pikiranku bagaimana aku telah melukai hati mama. Aku tak mau mati di sini. Aku ingin pulang. Aku tahu tindakanku lari dari rumah adalah salah. Aku tahu mama benar benar cemas dan sedih. Sebenarnya aku bermaksud menelepon mama beberapa hari yang lalu, tapi aku takut... takut..." Ia menangis tersedan-sedan. Sengguknya benar-benar membuat hatiku iba. Terbayang aku akan wajah anak gadisku. Pikiranku mulai jernih, "Begini..."

"Jangan ma, jangan bicara apa-apa. Biarkan aku selesai bicara."
ia meminta. Ia tampak putus asa. Aku menahan diri dan berpikir apa yang harus aku katakan. Sebelum aku menemukan kata-kata yang tepat, ia melanjutkan, "Aku hamil ma. Aku tahu tak semestinya aku mabuk sekarang, tapi aku takut. Aku sungguh-sungguh takut!"

Tangis itu memecah lagi. Aku menggigit bibirku dan merasakan pelupuk mataku mulai basah. Aku melihat pada suamiku yang bertanya perlahan, "Siapa itu?" Aku menggeleng-gelengkan kepala. Dan ketika aku tidak menjawab pertanyaannya, ia meloncat meninggalkan kamar dan segera kembali sambil membawa telepon portable. Ia mengangkat telepon portable yang tersambung pararel dengan teleponku. Terdengar bunyi klik. Lalu suara tangis suara di seberang sana terhenti dan bertanya, "Mama, apakah mama masih ada disana? Jangan tutup teleponnya ma. Aku benar-benar membutuhkan mama sekarang. Aku merasa kesepian."

Aku menggenggam erat gagang telepon dan menatap suamiku, meminta pertimbangannya. "Mama masih ada di sini. Mama tidak akan menutup telepon," kataku.

"Semestinya aku sudah bilang pada mama. Tapi bila kita bicara, mama hanya menyuruhku mendengarkan nasehat mama. Selama ini mamalah yang selalu berbicara. Sebenarnya aku ingin bicara pada mama, tetapi mama tak mau mendengarkan. Mama tak pernah mau mendengarkan perasaanku. Mungkin mama anggap perasaanku tidaklah penting. Atau mungkin mama pikir mama punya semua jawaban atas persoalanku. Tapi terkadang aku tak membutuhkan nasehat mama. Aku hanya ingin mama mau mendengarkan aku."

Aku menelan ludahku yang tercekat di kerongkongan. Pandanganku tertuju pada pamflet "Bagaimana Berbicara Pada Anak Anda" yang tergeletak di sisi tempat tidurku. "Mama mendengarkanmu," aku berbisik.

"Tahukah mama, sekarang aku mulai cemas memikirkan bayi yang ada di perutku dan bagaimana aku bisa merawatnya. Aku ingin pulang. Aku sudah panggil taxi. Aku mau pulang sekarang."

"Itu baik sayang," kataku sambil menghembuskan nafas yang meringankan dadaku. Suamiku duduk mendekat padaku. Ia meremas jemariku dengan jemarinya.

"Tapi ma, sebenarnya aku bermaksud pulang dengan menyetir sendiri mobil sendiri."

"Jangan," cegahku. Ototku mengencang dan aku mengeratkan genggaman tangan suamiku. "Jangan. Tunggu sampai taxinya datang. Jangan tutup telepon ini sampai taxi itu datang."

"Aku hanya ingin pulang ke rumah, mama."

"Mama tahu. Tapi, tunggulah sampai taxi datang. Lakukan itu untuk mamamu."

Lalu aku mendengar senyap di sana. Ketika aku tak mendengar suaranya, aku gigit bibir dan memejamkan mata. Bagaimana pun aku harus mencegahnya mengemudikan mobil itu sendiri. "Nah, itu taxinya datang." Lalu aku dengar suara taxi berderum di sana. Hatiku terasa lega. "Aku pulang ma," katanya untuk terakhir kali. Lalu ia tutup telepon itu. Airmata meleleh dari mataku. Aku berjalan keluar menuju kamar anak gadisku yang berusia 16 tahun. Suamiku menyusul dan memelukku dari belakang. Dagunya ditaruh di atas kepalaku.

Aku menghapus airmata dari pipiku. "Kita harus belajar mendengarkan," kataku pada suamiku. Ia terdiam sejenak, dan bertanya, "Kau pikir, apakah gadis itu sadar kalau ia telah menelepon nomor yang salah?"

Aku melihat gadisku sedang tertidur nyenyak. Aku berkata pada suamiku, "Mungkin itu tadi bukan nomor yang salah."

"Ma? Pa? Apa yang terjadi?," terdengar gadisku menggeliat dari balik selimutnya. Aku mendekati gadisku yang kini terduduk dalam gelap, "Kami baru saja belajar," jawabku.

"Belajar apa?" tanyanya. Lalu ia kembali berbaring dan matanya terpejam lagi. "Mendengarkan," bisikku sambil mengusap pipinya.