Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts

Saturday, August 4, 2007

Cinta dan Perkawinan

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?
Gurunya menjawab, " Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta" Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"
Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali”

Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya"

Gurunya kemudian menjawab "Jadi ya itulah cinta"
Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?"

Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan"

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.
Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"

Plato pun menjawab, "Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa
tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya ke sini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya"
Gurunyapun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan"

Monday, July 30, 2007

Buta Itu Cinta

Ketika ia dilahirkan ia masih bisa melihat hingga usia delapan tahun, tetapi karena kena penyakit akhirnya ia menjadi buta total dan tidak bisa melihat lagi. Tentu Anda bisa membayangkan bagaimana perasaannya kalau dengan seketika dunianya menjadi gelap gulita, seakan-akan layar tabir kehidupannya ditutup, sehingga ia tidak bisa melihat dan menikmati lagi keindahan alam ini. Ia menjalani sisa kehidupannya sebagai seorang tunanetra.

Walaupun demikian ia merasa beruntung, karena telah bisa mendapatkan pasangan hidup, seorang wanita yang tidak buta tetapi bersedia untuk dijadikan istrinya. Kenapa wanita ini memilih seorang tuna netra sebagai calon suami? Karena wajah wanita itu sendiri telah rusak kebakar, sehingga ia tidak bisa mendapatkan seorang suami, jangankan untuk mendapatkan jodoh, pergi keluar rumahpun ia sering sekali menjadi bahan ejekan dan tertawaan orang, bahkan anak kakaknya sendiri yang masih kecil merasa takut melihat wajahnya. Oleh sebab itulah ia mencari seorang suami yang tidak menilai dia dari segi wajahnya, ia mencari suami yang bisa mengasihi dia bukan berdasarkan dari segi penampilan luarnya.

Mereka berdua bisa hidup bahagia dengan penuh keharmonisan dan kasih sayang bahkan mereka telah dikaruniakan dua orang anak sehat. Pada suatu hari iaan pulang dengan perasaan riang gembira: "Mam, aku punya satu surprise yang sangat menyenangkan?"kata ia, "Aku akan bisa melihat lagi, masa
gelap hidup saya akan berakhir!"ucap ia kembali. Baginya ini merupakan hadiah yang terindah dan terbesar yang Tuhan akan berikan selama hidupnya.

Maklumlah karena hal inilah yang ia impi-impikan dan yang ia dambakan di dalam kehidupannya. Tiap hari ia berdoa berkali-kali kepada Tuhan, dan memohon agar sekali saja di dalam hidupnya, walaupun hanya untuk beberapa detik sekalipun juga untuk bisa melihat wajah istri dan anak-anaknya yang tercinta. Rupanya Tuhan telah mengabulkan doanya dimana dalam waktu yang dekat ini ia akan bisa melihat lagi seperti sediakala. Seorang dokter ahli mata dari Jerman, telah menyatakan kesediaannya untuk mengoperasinya, sehingga akhirnya ia bisa melihat lagi. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter yang menyatakan bahwa dokter yakin bisa menolongnya sehingga ia bisa melihat lagi. Dan minggu yang akan datang ia sudah bisa di operasi.

Apakah Anda bisa membayangkan, bagaimana perasaan ia setelah 22 tahun buta, akhirnya ia akan bisa melihat lagi? Ia akan bisa melihat kembali, semua keindahan alam yang pernah ia lihat sebelumnya selama 8 th, bagaimana hijaunya rumput itu, bagaimana birunya langit. Ia akan bisa melihat dan menikmati lagi isi dunia ini dengan segala macam warna yang indah-indah, tetapi yang lebih penting dari segala-galanya ialah ia akan bisa melihat wajah istri dan anak-anaknya yang terkasih, yang belum pernah ia lihat selama hidupnya.

Apakah surprise ini menyenangkan istrinya? Disatu pihak ia merasa senang kalau suaminya bisa melihat kembali, tetapi dilain pihak ia merasa sangat takut sekali. Ia merasa takut, apakah kehidupan kekeluargaan mereka akan bisa tetap berjalan seperti sediakala dengan penuh kasih dan keharmonisan? Ia takut perkawinannya akan menjadi kandas, ia takut rumah tangganya akan menjadi hancur. Ia merasa takut, bagaimana kalau suaminya nanti melihat wajahnya yang buruk dan sudah rusak ini. Ia merasa takut suaminya tidak akan bisa dan mau mengasihinya lagi, bahkan ia takut di tinggal oleh suaminya, karena penampilan luarnya yang buruk dan rusak terbakar. Bahkan ia berdoa kepada Tuhan memohon pengampunan dosa, karena ia merasa bersalah, sebab ia tidak mampu berbagi rasa dan bisa turut merasakan perasaan gembira bersama suaminya. Ia merasa perasaan egoisnya terlalu besar, karena ia terlalu mengasihi suaminya.

Perasaan gembira bahwa suaminya akan bisa melihat kembali, telah di tutup oleh rasa takut tak terhingga. Apakah salah kalau ia sangat mengasihi suaminya? Apakah salah kalau ia merasa takut ditinggal oleh suaminya? Walaupun demikian ia tidak mau mengungkapkan perasaan ini kepada suaminya, ia tetap pendam di dalam hatinya.

Semakin mendekati hari H, dimana ia akan bisa melihat kembali, semakin senang perasaan ia, bahkan kawan2 maupun tetangganya sekampung sudah mengetahui berita bahagia ini dan semuanya turut mengucapkan selamat dan turut menyatakan kebahagiaan mereka, hanya istrinya seorang semakin mendekati hari H, semakin cemas ia rasakan dan rasa takutnyapun semakin besar. Istrinya tetap tidak mau mengungkapkan perasaannya, karena ia tidak mau merusak kebahagiaan maupun harapan dari suaminya. Walaupun ia tidak mengucapkannya, tetapi hal ini terasakan sekali oleh suaminya, karena istrinya yang tadinya periang seolah-olah berubah menjadi semakin pendiam dan sering melamum.

Hari H pun tiba, sejak jam empat pagi ia sekeluarga telah bangun, karena bagi ia hari ini adalah hari yang terindah di dalam kehidupannya. Dan juga seperti persyaratan dari dokter sejak kemarin ia sudah puasa tidak makan maupun minum lagi. Tepat jam 8.00 pagi bel bunyi rumah bunyi, rupanya supir taksi yang akan menjemput ia telah tiba, ia berjalan keluar untuk membukakan pintu, tetapi istrinya pergi ke kamar tidur untuk berdoa sambil menangis. Ia tidak mau dan tidak bisa pamit lagi dari suaminya, karena perasaan takutnya sudah tidak tertahankan lagi.

Pada saat ia berlutut dan berdoa, sambil berlinang air matanya keluar, tiba-tiba ia merasakan belaian tangan yang membelai kepalanya dari belakang dengan penuh kasih sayang. Ternyata itu adalah tangan suaminya, ia berkata: "Mah, saya tidak jadi pergi, saya telah membatalkan jadwal operasinya, karena saya tidak jadi dan tidak akan mau di operasi lagi. Bagi saya kasih sayangmu ada jauh lebih indah dan lebih berharga daripada bisa melihat. Buat apa saya bisa melihat, kalau setelah itu hubungan dan keharmonisan hidup kita berdua menjadi rusak. Kasih sayangmu ada jauh lebih berharga dan lebih indah, daripada mata yang bisa melihat lagi. Biarlah saya tetap buta sampai dengan akhir ajal saya, yang penting kita bisa berkumpul dengan penuh kasih sayang untuk selama-lamanyanya.!"

Saturday, July 28, 2007

Mencintai Apa Adanya

Tahun itu dia mendadak muncul, Xiao Cien namanya. Tampangnya tidak seberapa. Di bawah dukungan teman sekamar, dengan memaksakan diri aku bersahabat dengan dia. Secara perlahan, aku mendapati bahwa dia adalah orang yang penuh pengertian dan lemah lembut.

Hari berlalu, hubungan kami semakin dekat, perasaan di antara kami semakin menguat, dan juga mendapat dukungan dari teman-teman. Pada suatu hari di tahun kelulusan kami, dia berkata padaku, "Saya telah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi, tetapi di Amerika, dan saya tidak tahu akan pergi berapa lama, kita bertunangan dulu, bolehkah?" Mungkin dalam keadaan tidak rela melepas kepergiannya, saya mengangguk.

Oleh karena itu, sehari sesudah hari wisuda, hari itu menjadi hari pertunangan kami berdua. Setelah bertunangan tidak berapa lama, bersamaan dengan ucapan selamat dan perasaan berat hati dalam hatiku, dia menaiki pesawat dan terbang menuju sebuah negara yang asing. Saya juga mendapatkan sebuah pekerjaan yang bagus, memulai hari bekerja dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Telepon internasional merupakan cara kami untuk tetap berhubungan dan melepas kerinduan.

Suatu hari, sebuah hal yang naas terjadi pada diriku. Pagi hari, dalam perjalanan menuju tempat kerja, sebuah taksi demi menghindari sebuah anjing di jalan raya, mendadak menikung tajam.....

Tidak tahu lewat berapa lama saya pingsan. Saat siuman telah berada di rumah sakit, dimana anggota keluarga menunggu mengelilingi tempat tidur saya. Mereka lantas memanggil dokter.

"Pa?" saya ingin memanggilnya tapi tidak ada suara yang keluar. Mengapa? Mengapa saya tidak dapat memanggilnya? Dokter mendatangiku dan memeriksa, suster menyuntikkan sebuah serum ke dalam diriku, mempersilahkan yang lainnya untuk keluar terlebih dahulu.

Ketika siuman kembali, yang terlihat adalah raut wajah yang sedih dari setiap orang, sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa saya tidak dapat bersuara? Ayah dengan sedihnya berkata, "Dokter bilang syaraf kamu mengalami luka, untuk sementara tidak dapat bersuara, lewat beberapa waktu akan membaik."

"Saya tidak mau!" saya dengan berusaha memukul ranjang, membuka mulut lebar-lebar berteriak, tapi hanya merupakan sebuah protes yang tidak bersuara. Setelah kembali ke rumah, kehidupanku berubah. Suara telepon yang didambakan waktu itu, merupakan suara yang sangat menakutkan sekarang ini. Saya tidak lagi keluar rumah, juga menjadi seorang yang menyia-nyiakan diri, ayah mulai berpikir untuk pindah rumah. Dan dia? di belahan bumi yang lain, yang diketahui hanyalah saya telah membatalkan pertunangan kami, setiap telepon darinya tidak mendapatkan jawaban, setiap surat yang ditulisnya bagaikan batu yang tenggelam ke dasar lautan.

Dua tahun telah berlalu, saya secara perlahan telah dapat keluar dari masa yang gelap ini, memulai hidup baru, juga mulai belajar bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Suatu hari, Xiao Cien memberitahu bahwa dia telah kembali, sekarang bekerja sebagai seorang insinyur di sebuah perusahaan. Saya berdiam diri, tidak mengatakan apapun. Mendadak bel pintu berbunyi, berulang-ulang dan terdengar tergesa-gesa. Tidak tahu harus berbuat apa, ayah menyeretkan langkah kakinya yang berat, pergi membuka pintu.

Saat itu, di dalam rumah mendadak hening. Dia telah muncul, berdiri di depan pintu rumahku. Dia mengambil napas yang dalam, dengan perlahan berjalan ke hadapanku, dengan bahasa isyarat yang terlatih, dia berkata, "Maafkan saya! Saya terlambat satu tahun baru menemuimu. Dalam satu tahun ini, saya berusaha dengan keras untuk mempelajari bahasa isyarat, demi untuk hari ini. Tidak peduli kamu berubah menjadi apapun, selamanya kamu merupakan orang yang paling kucintai. Selain kamu, saya tidak akan mencintai orang lain, marilah kita menikah!"

Monday, July 23, 2007

Bukan Cinta

Seorang murid ingin sekali meninggalkan dunia tetapi ia menyatakan, bahwa keluarganya terlalu mencintai dia untuk melepaskannya.

"Cinta?" kata guru. "Itu sama sekali bukan cinta. Dengarkan ... " Dan ia menerangkan juga rahasia kepada murid, di mana ia dapat pura-pura menirukan mati.

Hari berikutnya orang itu mati menurut gejala-gejala lahirnya dan rumah riuh dengan tangis dan ratapan keluarganya. Lalu guru datang dan berkata kepada keluarga yang menangis bahwa ia mempunyai kuasa menghidupkan orang itu, jika dapat ditemukan seseorang untuk mati menggantinya. Ada yang sukarela mau?

"Mayat" menjadi heran, ketika setiap anggota dari keluarga mulai mengajukan alasan, mengapa perlu sekali ia menjaga hidupnya sendiri. lstrinya merangkum perasaan mereka semua dengan kata-kata. "Senyatanya tidak perlu ada orang menggantikannya. Kami akan berjalan terus tanpa dia."

Tuesday, July 17, 2007

Kata-Kata Dari Hati

Sebagian besar orang butuh mendengar "Tiga kata sederhana" itu. Kadang-kadang mereka mendengarnya pada saat yang tepat.

Aku berjumpa dengan Connie pada hari ia dibawa ke bangsal perawatan, tempatku bekerja sebagai tenaga relawan. Suaminya, Bill, berdiri dengan gugup dekat-dekat ketika ia dipindahkan dari tempat tidur dorong ke tempat tidur rumah sakit. Walaupun Connie berada pada tahap-tahap akhir perjuangannya melawan kanker, ia masih sadar dan ceria. Kami merasa ia sudah pasrah. Aku sudah selesai menuliskan namanya pada semua peralatan rumah sakit yang akan digunakannya, lalu bertanya kalau-kalau ia masih membutuhkan sesuatu.

"Oh ya," katanya, "Bisakah kamu tunjukkan pada saya bagaimana menggunakan TV?
Saya sangat senang nonton opera sabun dan tak ingin ketinggalan". Connie orang yang romantis. Dia menyukai opera-opera sabun, novel-novel, dan film-film romantis dengan kisah cinta yang bagus. Ketika kami makin saling mengenal, ia membukakan rahasia betapa frustasinya menikah 32 tahun lamanya dengan seorang pria yang selalu menyebutnya, "Perempuan Pandir".

"Oh, saya tahu Bill mencintai saya," katanya, "tetapi dia tak pernah sekalipun menatakan dia mencintai saya, atau mengirimkan kartu2 pada saya". Ia mendesah lalu memandang ke luar jendela mengamati pepohonan di halaman. "Akan saya berikan apa saja ia mengatakan "Aku mencintaimu", tetapi hal itu memang bukan pembawaannya."

Bill menjenguk Connie setiap hari. Pada mulanya ia hanya duduk di samping tempat tidur sementara Connie menonton opera-opera sabun. Kemudian ketika Connie mulai lebih banyak tidur, ia berjalan hilir mudik di gang di luar ruangan. Lalu setelah Connie tak lagi menonton TV dan makin sedikit saat-saat ia sadar, aku mulai menghabiskan lebih banyak waktu dengan Bill.

Dia menceritakan pekerjaannya sebagai tukang kayu serta kesukaannya pergi memancing. Dia dan Connie tak mempunyai anak, tetapi mereka menikmati saat-saat liburan dengan pergi melancong, sampai Connie jatuh sakit. Bill tak dapat mengungkapkan perasaan-perasaannya menghadapi kenyataan istrinya dalam keadaan sekarat.

Suatu hari, saat minum kopi di kafetaria, aku menggiringnya ke pokok pembicaraan tentang wanita dan bagaimana mereka membutuhkan suasana romantis dalam hidup mereka. Betapa mereka suka akan kartu-kartu dan surat-surat cinta yang sentimental.

"Apakah kamu katakan pada Connie bahwa kamu mencintainya?" aku bertanya (walau aku tahu jawabannya), dan ia melihat padaku seakan-akan aku telah gila.
"Itu tak perlu saya lakukan," katanya. "Dia tahu saya mencintainya"
"Saya yakin dia tahu," kataku, meraih dan menyentuh tangannya - kasar, tangan seorang tukang kayu yang mengenggam cangkir seakan-akan itulah satu-satunya tempat ia bergantung.
"Tetapi ia butuh mendengar hal itu, Bill. Dia butuh mendengar bahwa ia berarti bagimu selama sekian tahun. Cobalah pikirkan hal itu.

Kami kembali ke kamar Connie. Bill menghilang ke dalam, sedangkan aku pergimengunjungi pasien lainnya. Kemudian aku melihat Bill duduk di samping tempat tidur. Ia mengenggam tangan Connie saat ia tidur. Tanggal 12 Februari.

Dua hari kemudian aku berjalan menuju bangsal itu pada sore hari. Di sana berdiri Bill, bersender pada dinding gang, memandang ke lantai. Aku sudah tahu dari perawat kepala bahwa Connie telah meninggal pada pukul 11 pagi itu.

Ketika Bill melihatku, ia membiarkan dirinya dirangkul lama dalam pelukan. Wajahnya basah oleh air mata dan ia tergetar. Akhirnya ia kembali bersandar di tembok dan menghela napas panjang.

"Saya harus mengatakan sesuatu," katanya. "Saya harus mengatakan betapa lega rasanya berkata kepadanya." Ia berhenti untuk membersihkan hidungnya. "Lama saya memikirkan apa yang kamu katakan, dan pagi ini saya mengatakan betapa saya amat mencintainya... dan bahagia menikah dengannya. Andai saja kamu melihat senyumnya....."

Aku menuju ke kamar untuk mengucapkan salam perpisahanku pada Connie. Di sana, di meja samping tempat tidur, ada sebuah kartu valentine yang besar dari Bill. Tentu anda juga tahu, hal sentimental yang mengatakan, "Untuk istriku yang luar biasa...Aku mencintaimu"

Saturday, July 14, 2007

Daun Terbang Karena Angin Bertiup Atau Pohon Tidak Memintanya Untuk Tinggal (Angin)

Karena aku menyukai seorang gadis bernama Daun, karena dia sangat bergantung pada Pohon, jadi aku harus menjadi Angin yang kuat.

Angin akan meniup Daun terbang jauh. Ketika aku pertama kalinya, ketika satu bulan setelah aku pindah sekolah. Aku melihat seorang memperhatikan kami bermain sepakbola. Ketika itu, dia selalu duduk disana sendirian atau dengan teman-temannya memperhatikan Pohon. Ketika Pohon berbicara dengan gadis-gadis, ada cemburu di matanya. Ketika Pohon melihat ke arah Daun, ada senyum di matanya. Memperhatikannya menjadi kebiasaanku, seperti daun yang suka melihat Pohon. Satu hari, dia tidak tampak, aku merasakan kehilangan.

Seniorku juga tidak ada saat itu, Aku pergi ke kelas mereka, melihat seniorku sedang memperhatikan daun. Air mata mengalir di mata daun ketika Pohon pergi, besoknya, aku melihat Daun di tempatnya yang biasa, memperhatikan Pohon. Aku melangkah dan tersenyum padanya. Menulis catatan dan memberikan kepadanya. Dia sangat kaget.

Dia melihat ke arahku, tersenyum dan menerima catatanku. Besoknya, dia datang, menghampiriku dan memberiku catatan. Hati Daun sangat kuat dan Angin tidak bisa meniupnya pergi, hal itu karena Daun tidak mau meninggalkan Pohon. Aku melihat ke arahnya dengan kata-kata tersebut dan pelan dia mulai berkata padaku dan menerima kehadiranku dan telponku.

Aku tahu orang yang dia cintai bukan aku, tapi aku akan berusaha agar suatu hari dia menyukai aku. Selama empat bulan, Aku telah mengucapkan kata Cinta tidak kurang dari 20x kepadanya. Setiap kali dia mengalihkan pembicaraan .. tapi aku tidak menyerah, aku memutuskan untuk memiliki dia dan berharap dia akan setuju menjadi pacarku. Aku bertanya,"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak pernah membalas?", dia berkata, "Aku menengadahkan kepalaku".

"Ah?" Aku tidak percaya apa yang aku dengar. "Aku menengadahkan kepalaku" dia berteriak.

Aku meletakkan telepon, berpakaian dan naik taxi ke tempat dia, dan dia membuka pintu, aku memeluknya kuat-kuat.

"Daun terbang karena tiupan Angin atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal".

Daun Terbang Karena Angin Bertiup Atau Pohon Tidak Memintanya Untuk Tinggal (Daun)

Selama SMA, aku suka mengoleksi daun-daun, kenapa?

Karena aku merasa bahwa daun untuk meninggalkan pohon yang selama ini ditinggali selama ini membutuhkan banyak kekuatan.

Selama 3 thn di SMA, aku dekat dengan seorang pria, bukan sebagai pacar tapi "Sahabat". Tapi ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya, Aku mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah aku pelajari sebelumnya – cemburu. Perasaan di hati ini tidak bisa digambarkan dengan menggunakan Lemon. Hal itu seperti 100 butir lemon busuk. Mereka hanya bersama selama dua bulan. Ketika mereka putus, aku menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembiranya. Tapi sebulan kemudian dia bersama seorang gadis lagi.

Aku menyukainya dan aku tahu bahwa dia juga menyukaiku, tapi mengapa dia tidak mau mengatakannya? Sejak dia mencintaiku, mengapa dia tidak yang memulainya dulu untuk melangkah?

Ketika dia punya pacar baru lagi, hatiku selalu sakit. Waktu berjalan dan berjalan, hatiku sakit. Aku mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan, tapi mengapa dia memperlakukanku dengan sangat baik diluar perlakuannya hanya untuk seorang teman?

Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati, aku tahu kesukaannya, kebiasaannya. Tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa diketahui. Kau tidak mengharapkan aku seorang wanita untuk mengatakannya bukan?

Diluar itu, aku mau tetap disampingnya, memberinya perhatian, menemaninya, dan mencintainya. Berharap, bahwa suatu hari, dia akan datang dan mencintaiku. Hal itu seperti menunggu telphonenya setiap malam, mengharapkannya untuk mengirimku SMS. Aku tahu sesibuk apapun dia, dia pasti meluangkan waktunya untukku. Karena itu, aku menunggunya. 3 tahun cukup berat untuk kulalui dan aku mau menyerah. Kadang aku berpikir untuk tatap menunggu. Luka dan Sakit hati, dan dilema yang menemaniku selama 3 tahun ini.

Ketika diakhir tahun ke 3, seorang pria mengejarku dia adalah adik kelasku, setiap hari dia mengejarku tanpa lelah. Dari penolakan-penolakan yang telah ditunjukkan, aku merasa bahwa aku ingin memberikan dia ruang kecil dihatiku.

Dia seperti angin yang hangat dan lembut, mencoba meniup daun untuk terbang dari pohon. Akhirnya, aku sadar bahwa aku tidak ingin memberikan Angin ini ruang yang kecil di hatiku.

Aku tahu Angin ini akan membawa pergi Daun yang lusuh jauh dan ketempat yang lebih baik. Akhirnya Aku meninggalkan Pohon, tapi Pohon hanya tersenyum dan tidak memintaku untuk tinggal, aku sangat sedih memandangnya tersenyum ke arahku.

"Daun terbang karena Angin bertiup atau Pohon tidak memintanya untuk tinggal"

Thursday, July 12, 2007

Daun Terbang Karena Angin Bertiup Atau Pohon Tidak Memintanya Untuk Tinggal (Pohon)

Alasan mengapa orang-orang memanggilku "Pohon" karena aku sangat baik dalam menggambar pohon. Setelah itu, aku selalu menggunakan gambar pohon pada sisi kanan sebagai trademark pada semua lukisanku. Aku telah berpacaran sebanyak lima orang wanita ketika aku masih di SMA. Ada satu wanita yang aku sangat aku cintai, tapi aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya.

Dia tidak memiliki wajah yang cantik, tubuh yang sexy, dsb, dia sangat peduli dengan orang lain dan religius tapi dia hanya wanita biasa saja. Aku menyukainya, sangat menyukainya, menyukai gayanya yang innocent dan apa adanya, kemandiriannya, aku menyukai kepandaiannya dan kekuatannya.

Alasan aku tidak mengajaknya kencan karena aku merasa dia yang sangat biasa dan tidak serasi untukku. Aku juga takut, jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan hilang. Aku juga takut kalau gosip-gosip yang ada akan menyakitinya. Aku merasa dia adalah "sahabatku" dan aku akan memilikinya tiada batasnya dan aku tidak harus memberikan semuanya hanya untuk dia.

Alasan yang terakhir, membuat dia menemaniku dalam berbagai pergumulan selama tiga tahun ini. Dia tau aku mengejar gadis-gadis lain, dan aku telah membuatnya menangis selama 3 tahun.

Ketika aku mencium pacarku yan kedua, dan terlihat olehnya. Dia hanya tersenyum dengan berwajah merah dan berkata "lanjutkan saja" dan setelah itu pergi meninggalkan kami. Esoknya, matanya bengkak .. dan merah.

Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis, tapi aku tertawa dengannya seharian. Ketika semuanya telah pulang, dia sendirian di kelas untuk menangis. Dia tidak tahu bahwa aku kembali dari latihan sepakbola untuk mengambil sesuatu di kelas, dan aku melihatnya menangis selama sejaman.

Pacarku yang ke-4 tidak menyukainya. Pernah sekali mereka berdua perang dingin, aku tahu bukan sifatnya untuk memulai perang dingin. Tapi aku masih tetap bersama pacarku. Aku berteriak padanya dan matanya penuh dengan air mata sedih dan kaget. Aku tidak memikirkan perasaannya dan pergi meninggalkannya bersama pacarku. Esoknya masih tertawa dan bercanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aku tahu bahwa dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tahu bahwa sakit hatiku sama buruknya dengan dia, aku juga sedih.

Ketika aku putus dengan pacarku yang ke 5, aku mengajaknya pergi. Setelah kencan satu hari itu, aku mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya. Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ada sesuatu yang ingin dia katakan padaku. Aku cerita padanya tentang putusnya aku dengan pacarku dan dia berkata tentang dia sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang. Aku tahu pria itu. Dia sering mengejarnya selama ini. Pria yang baik, penuh energi dan menarik.

Aku tak bisa memperlihatkan betapa sakit hatinya aku, tapi hanya bisa tersenyum dan mengucapkan selamat padanya. Ketika aku sampai di rumah, sakit hatiku bertambah kuat dan aku tidak dapat menahannya. Seperti ada batu yang sangat berat didadaku. Aku tak bisa bernapas dan ingin berteriak namun tidak bisa.

Air mata mengalir dan aku jatuh menangis. Sudah sering aku melihatnya menangis untuk pria yang mengacuhkan kehadirannya. Ketika upacara kelulusan, aku membaca SMS di Handphoneku. SMS itu dikirim 10 hari yang lalu ketika aku sedih dan menangis. SMS itu berbunyi, "Daun terbang karena Angin bertiup atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal?".

Monday, July 9, 2007

Lelaki Berduka

Seorang lelaki penuh luka dalam hidupnya. Ia selalu merasa gagal dalam setiap pekerjaan bahkan dalam hal membina sebuah rumah tangga yang utuh dengan istrinya. Walaupun cintanya "tanpa pamrih," cinta yang utuh, tulus tanpa ada pertimbangan "untung dan rugi." Ia cinta pekerjaanya, ia cinta istri dan anak semata wayangnya, ia cinta akan mereka yang selalu mengasuhnya termasuk sahabat-sahabatnya.

Karena ia yakin cinta tanpa pamrihnya itu akan membawa hasil yang maksimal. Kegagalan yang ia rasakan semakin menggunung, seakan meledak saat itu akan meledak bagai bom yang bisa menghancurkan segalanya. Ia sadari kekurangannya. Tetapi kesalahan dan kegagalannya mengalahkan cintanya, hingga kemelut dirinya melitit hati terdalamnya. Ia selalu mengumpat orang lain yang membuat kegagalannya. Cinta tanpa pamrihnya luntur.

Melihat anaknya dirundung duka yang panjang, perempuan renta yang mengenalkan ia kedunia bertanya, "Anakku, apa yang yang membuat engkau berduka, bukankah hidup ini mulia, anakku."

Ia menjawab dengan lirih, "Ma, rasanya aku tak berdaya, tiada berguna aku hidup, nyawaku inipun tak mengandung arti apa-apa karena aku manusia pemarah dan selalu membuat kesalahan, padahal bukan karena aku."

Sang ibu berkata, " Itu masalah yang bisa diselesaikan anakku"

Ia menjawab dengan muka merah dan heran, "Aku gagal Ma, hidupku ini selalu jadi masalah, dan ini masalah besar bagiku dan orang lain."

Perempuan renta itu tidak mampu titik temu untuk meredakan emosi lelaki berduka.

Hari itu semakin gelap untuknya, dunia ini semakin gelap bahkan hidupnya tanpa matahari dan rembulan . Ia bergumam, "Hidup mulia? bukan, hidup ini tidak mulia, sayang. Hantu kegagalan terus mendayu dalam hatinya. Ia meraih seutas tali yang selama ini untuk menampung kegagalan. Bunuh diri! ya bunuh diri akan menyelesaikan masalahku." Ia berjalan menuju kebun yang selama ini menjadi tempat hiburannya.

Saat tali sudah mengikat menggantung leher dan pohon rambutan, sang ibu datang dengan tergopoh - gopoh.

"Anakku akan aku relakan engkau untuk mati dengan maumu, jika engkau tak mau dengar suara orang lain, beri barang sedetik untuk bertanya padamu. Kapan "masa emas" yang engkau alami selama hidupmu?"

Ia menjawab, "Saat aku merasa benar dan hidup kecukupan."

Sang Ibu menjawab, "Ya, mungkin itu yang selalu kamu harapkan dalam hidup ini hingga kesalahan, masalah yang ada dan kegagalan tidak engkau lihat sebagai awal untuk menemukan matahari, akhirnya tali itu akan mengakhirinya. Tapi bukan itu anakku, masa emas kita adalah 'Masa' dimana kita menyadari bahwa masalah itu timbul dari kita sendiri, bukan karena orang lain. Bila kita menyadari itu, kita bisa melihat apa yang membuat kegagalan, apa yang menjadi masalah dan bisa melihat pada diri kita sendiri, dan paling tidak kita akan punya kesempatan untuk memperbaiki dan mampu untuk tidak mengulanginya kembali, dan mencoba berusaha berbuat yang paling baik paling tidak untuk kita sendiri, Tetapi bila engkau masalah itu selalu engkau pikir disebabkan karena orang lain, engkau akan selalu merasa benar, padahal sebetulnya salah dan bila kesalahan lain menimpa akan menjadi bom yang siap meledakkan nyawamu. Kita sendiri menyumbang kegagalan itu, bukan ia dan bukan juga mereka, bahkan timbul dendam."

"Sekarang terserah engkau anakku, bila engkau masih mau dengar orang lain,dan kembali bersama mataharimu" lanjut sang ibu.

Perlahan ia lepaskan tali yang menggantung dilehernya, memeluk ibunya, memeluk istri dan anak tercintanya ia memeluk seluruh kehidupannya dan menemukan matahari

Tuesday, July 3, 2007

Tiap Hari Adalah Istimewa

Kakak iparku membuka laci lemari pakaian kakakku yang paling bawah, lalu mengambil sesuatu terbungkus tissue putih dan mengulurkannya kepadaku sambil berkata: "Ini pakaian dalam yang sangat spesial."

Kubuka bungkusan itu, dan kutemukan sebuah pakaian dalam yang sangat menawan, lembut, terbuat dari sutera, disulam tangan, dengan tali sangat lembut. Tag harga masih tertempel, dengan kode-kode penjualannya yang rumit.

"Jane membelinya delapan atau sembilan tahun yang lalu, dan belum pernah memakainya. Katanya ia ingin memakainya untuk suatu kesempatan yang sangat istimewa.Yah, rasanya inilah hari yang istimewa itu," kata kakak iparku lemah.

Ia mengambil pakaian dalam itu dari tanganku, dan meletakkannya di tas tempat tidur, bersama dengan pakaian lainnya yang kami persiapkan untuk dibawa ke rumah duka.

Ia memegang pakaian dalam itu sejenak, dan dengan tiba-tiba ia menutup laci tersebut keras-keras sambil berkata keras padaku: "Jangan pernah menyimpan sesuatu yang istimewa untuk kesempatan istimewa. Hidupmu tiap hari adalah istimewa."

Aku terus ingat kata-kata tersebut sepanjang upacara pemakaman dan hari-hari sesudahnya. Saya membantu dia dan keponakan-keponakan saya untuk melewati hari-hari berkabung setelah kematian kakakku yang mendadak. Aku juga terus memikirkan mereka sepanjang penerbanganku kembali ke California dari kota Midwestern di mana kakakku tinggal. Aku juga memikirkan hal-hal yang belum sempat didengar, dilihat atau dikerjakan oleh almarhum kakakku.

Aku juga memikirkan hal-hal yang sudah ia kerjakan tanpa menyadari bahwa hal-hal tersebut sungguh sangat spesial. Aku terus memikirkan kata-kata kakak iparku, dan sepertinya kata-kata yang ia ucapkan saat hatinya penuh duka tersebut telah mengubah hidupku. Mendadak sepertinya aku telah membaca sedemikian banyak buku tetang kehidupan.

Aku lalu memandang ke luar jendela dan menikmati pemandangan udara yang indah, tanpa pusing lagi memikirkan bagaimana kebun kesayanganku yang telah kutinggal pergi beberapa hari.

Sesampai di rumahku sendiri, aku lalu menyempatkan diri untuk lebih Banyak berkumpul dengan keluargaku dan teman-temanku, dan langsung mengurangi kegiatan rapat-rapatku. Apabila diperlukan, hidup ini semestinya dipenuhi pola-pola untuk pengalaman tentang kenikmatan, dan bukan pertahanan serta beban. Sekarang saya mencoba untuk memperhitungkan waktu dengan lebih teliti dan mensyukurinya.

Aku tidak "menyimpan" sesuatu. Kami bahkan menggunakan chinawares (piring-piring buatan cina) dan koleksi kristal kami setiap hari, tanpa menunggu ada pesta, ada tamu atau lainnya. Ketika kami kehilangan uang, ketika kran air bocor, ketika bunga camelia kami mekar, adalah saat-saat yang kami istimewakan.

Saya pergi ke pasar memakai pakaian yang indah, jika memang sedang ingin. Semua kami lakukan tanpa rasa sayang yang berlebihan terhadap barang-barang tersebut. Teorinya, kalau saya kelihatan lebih berada daripada orang-orang di sekitarku, saya juga akan menjadi tidak pelit terhadap diriku sendiri.

Saya tidak hanya memakai parfum kalau pergi ke pesta.

Pelayan di toko bangunan, tukang sayur di pasar, teller di bank, dan teman-temanku di pesta, memiliki hidung yang berfungsi sama. Kata-kata "suatu hari kelak" ataupun "hari-hari ini", mempunyai makna yang sama bagi saya. Jika ada hal-hal yang layak didengar, ditonton, dibaca atau dikerjakan, saya akan berusaha mendengar, menonton, membaca atau mengerjakannya sekarang juga.

Saya tidak tahu apa kira-kira yang akan almarhum kakakku apabila ia tahu bahwa keesokan harinya ("besok" adalah kata-kata yang tidak pernah kita bayangkan akan tidak terjadi) ia sudah tidak akan ada lagi di dunia ini. Mungkin ia akan menelpon seluruh keluarganya dan beberapa teman dekatnya, mungkin ia akan menelpon teman-teman lamanya dan meminta maaf akan kesalahan-kesalahan yang ia lakukan di masa lalu. Saya bahkan juga membayangkan bahwa ia justru akan pergi ke sebuah restoran cina yang sangat ia sukai.

Tapi semua itu hanya perkiraanku saja. Kita tidak pernah tahu.

Aku Sangat Mencintainya

Pendeta sudah hampir selesai membacakan doa pada upacara pemakaman. Tiba-tiba pria berumur 78 tahun yang istrinya—teman hidupnya selama 50 tahun—meninggal dunia dan baru saja dimakamkan berseru dengan sedih, “Aduh, aduh, betapa besarnya cintaku kepadanya!” Keluh kesahnya itu terasa mengganggu ketenangan upacara yang berlangsung khusyuk itu. Para anggota keluarga dan teman-teman yang berdiri di sekeliling nampak kaget dan kikuk karenanya. Anak-anak pria itu, yang semua sudah dewasa, berusaha menenangkannya.

“Sudahlah, Ayah—kami mengerti. Sudah, tenanglah.” Pria lansia itu menatap peti mati yang dengan pelan pelan diturunkan ke dalam liang makam, sementara pendeta mengakhiri doa. Setelah selesai, dipersilahkannya sanak keluarga menaburkan tanah ke atas peti mati sebagai tanda bahwa maut merupakan akhir yag pasti. Hadirin secara bergilir melakukannya, kecuali pria lansia itu. ”Aduh, aku sangat mencintainya!” keluhnya dengan suara keras. Ketiga anaknya berusaha lagi menenangkannya, tetapi ia terus saja berkeluh kesah, ”Aku mencintainya!”

Ketika para pelayat mulai beranjak hendak pergi, pria itu tetap saja berdiri di tempat semula sambil menatap ke dalam liang. Kini pendeta menghampirinya, ”Saya tahu bagaimana perasaan Anda, tetapi kini sudah waktunya pergi. Kita semua harus pergi dari sini dan meneruskan kehidupan kita.”

”Aduh, betapa besarnya cintaku kepadanya!” keluh pria malang itu dengan sedih. ”Anda tidak mengerti,” ujarnya kepada pendeta. ”Saya pernah sekali hendak mengucapkannya kepadanya.”